Food is coming from heaven
(pepatah Cina)
Baru saja Saya mendarat di Bandara Soekarno Hatta dari sebuah perjalanan dinas ke Manado yang merupakan rangkaian beruntutan setelah Surabaya, Bandung dan daerah lainnya di Indonesia . Bepergian ke pelosok nusantara dalam konteks bekerja sesungguhnya melelahkan, meskipun demikian untungnya ada dimensi lain perjalanan yang selalu memaksa kita rindu untuk kembali ke daerah-daerah tersebut.
Bepergian di Indonesia berarti juga perjalanan menikmati kenikmatan kuliner di tempat yang kita singgahi, tak kurang di Manado, saya berkesempatan menikmati pedas dan nikmatnya “woku belanga”, “Cakalang/Nike rica-rica”, “tinutuan” dan kue “Panada”….… e do do e…pe sadap skali jo….. Beberapa waktu sebelumnya di Surabaya, Bebek Goreng dan makanan tradisional “Bumbu Desa” yang meski franchisenya tersebar dimana-mana tetapi percayalah rasanya akan unik di setiap tempatnya. Di Bandung, “serabi imut”, “yoghurt cisangkuy”, “batagor kingsley” ataupun “rumah nenek” menjadi selingan di tengah presentasi-presentasi panjang pekerjaan.
Selanjutnya perjalanan kuliner ini akan hinggap di kota saya, Jakarta. Kesempatan ini menjadi istimewa karena acara yang telah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, Festival Jajajanan Bango (FJB) datang kembali tahun ini.
Karena FJB ini adalah ajang langka, hanya diadakan satu kali setiap tahunnya, saya bertekad harus bisa datang meskipun dengan konsekuensi memperpendek satu hari kunjungan kerja tersebut agar dapat memiliki kesempatan untuk hadir di hari terakhir dan sengaja mengosongkan perut dengan tidak mencicipi makanan pesawat . Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang, saya harus bergegas ke Senayan.
***
Siang itu sesungguhnya sangat terik untuk ukuran Jakarta sehari-hari, matahari rasanya tak lebih dari sejengkal dari ubun-ubun. Tetapi humiditas ini berubah menjadi oase bagi sebagian masyarakat Jakarta termasuk saya.. Preposisi 80 jenis makanan dalam 2 hari sungguh mengundang selera. Beberapa memang sudah pernah saya rasakan di seputar Jakarta, entah dalam kesempatan makan siang dengan teman-teman kantor atau sekedar menuntaskan rasa lapar selesai berolahraga. Kambing pondok sate pejompongan, Makanan menado Beutika, ketoprak ciragil, Ayam Taliwang Blok M, Ice Krim Ragusa sudah bukan penganan asing lagi… i’m hungry for more
Sampailah saya sudah di area ratusan meter persegi yang tersebar dalam 3 kelompok besar, sektor kanan yang menghadap ke Hotel Century Park, sektor kiri yang lebih dekat ke JHCC dan sektor tengah yang juga berfungsi sebagai panggung utama, semua sudut tersebut fully booked, masyarakat tumpah tuah di sana. Tidak ada pembagian jenis makanan khusus di setiap sektornya, justru di sinilah asiknya karena bau semerbak datang dari segala penjuru sudut sambil bingung memilih, makanan beruntung mana yang pertama yang akan saya terpilih. Yang datang pun beragam terlihat di sini mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak (dan panitia pun sudah mengantisipasi dengan menyediakan arena bermain anak-anak), ibu-ibu menenteng bayi. Saya yang rusuh bergegas datang dari bandara, bahkan banyak yang segaja datang dari kondangan perhelatan perkawinan untuk mampir seperti beberapa orang berbaju kebaya ini. Tidak peduli panas serasa ada di, semua tumpah ruah dihimpit 80 jenis makanan lezat yang ada di sekeliling.
Akhirnya dari berpuluh-puluh alternatif pilihan, penulis memutuskan untuk membeli Mi aceh Seulawah jalan Benhil, mi ayam pak loso kumis Jl Irian/Ambon pangsit basahnya sungguh maknyusss, Nasi Goreng Kambing Kebon sirih, nasi goreng merah Makassar dari RM Makassar pelangi, nasi goreng gila gondrong jalan besuki, Tongseng jatinegara Warung sederhana, Asinan spesial Ny Isye Kamboja sampai pizza-nya orang betawi, kerak telor.
Secara total, walhasil 15 pengenan dengan suksesnya saya angkut ke rumah, mudah-mudahan bisa tahan lama di kulkas. Untungnya keluarga kami yang senang jajanan ini tidak perlu berlama-lama untuk melahap semua penganan yang ada, Emil yang maniak nasi goring tidak menyisakan sedikitpun beberapa jenis nasi goring yang sengaja saya bawa untuk menuntaskan hasrat pada nasi gorengnya yang overdosis. Makan tongseng plus ikan rica-rica, what a weird combination, buat EGP…jangan sampai makanan-makanan ini terlewatkan karena sudah expire besok atau lusa.
* * *
Mungkin benar pepatah konghucu di atas bahwa makanan Indonesia bukan sekedar penganan yang mengenyangkan tetapi anugrah yang dikirimkan Tuhan kepada negara ini, sebuah pemberian dari Surga yang menyelinap lewat tangan-tangan terampil maestro kuliner dan rasanya direguk jutaan penikmatnya.
Makanan Indonesia bagi saya pribadi bukan sekedar sesuatu yang masuk di rongga mulut . Tetapi jauh melewati batas fungsi mengenyangkannya, sebagai kekayaan bahkan salah satu identitas bangsa. Kekayaan itu akan semakin terasa ketika kita melanglangbuana ke negeri orang. Karena itulah, betapa di berbagai kesempatan ketika saya tinggal di Singapura sebagai misal, dalam sebuah ajang food festival kecil-kecilan betapa mie goreng dan sate ayam buatan orang rumah yang dikirim harus dibuat kembali minggu depannya karena banyaknya permintaan untuk dapat mencicipinya kembali. atau Rendang bawaan ibu di Swiss tak henti-hentinya dibicarakan teman satu asrama sambil sesekali bertanya kapan lagi orang rumah akan mengirimkan . Di saat-saat seperti itulah kuliner Indonesia menjadi bagian yang terpisahkan dari identitas saya sebagai seorang Indonesia. “Rendang Man” bahkan menjadi panggilan penulis di Swiss.
Oleh karena itu mengapa banyak orang asing yang kerap kembali ke Indonesia. Sebagian Chef memutuskan untuk tinggal di Bali atau Bandung karena, kuliner Indonesia membuat mereka merasa neagara ini sangat dekat dengan keseharian mereka…indonesia bukan sebuah negara asing tetapi adalah home. Memang surga makanan adalah home bagi para Chef.
Jean Gelman dalam bukunya Taylor, Jean Gelman (2003). Indonesia: Peoples and Histories. New Haven and London: Yale University Press, pages 8-9, menggambarkan Indonesia sebagai telah dikenal sebagai surga makanan sejak ribuan tahun lalu, pada abad 16, orang Eropa pertama kali menemukan bagaimana nasi menjadi makanan yang prestisius bagi kalangan bangsawan di Jawa.
Bisa anda bayangkan betapa puluhan daerah memiliki jenis masakannya bahkan konon ribuan pulau yang melingkari pun emiliki kekhasan makanan tersendiri, betapa kayanya bangsa ini dengan varian kuliner yang sampai saat ini kualifikasinya buat saya prbadi kalau tidak “enak” ya enak sekali”
Anthony Bourdain, chef yang telah melanglang buana dengan mengusung acaranya yang telah mengglobal “No reservations”, dalam sebuah perjalanannya menyusuri nusantara yang menurut penulis salah satu reportase terlengkap wisata kuliner orang asing di Indonesia, telah membawanya merasakan dodol garut, gule otak, warung padang, durian yang digambarkannya ”Smelling bad but feeling good”, nasi goring, Serabi, ”pancake of Indonesia”.
Dibalut dengan suasana ”melankolis” Indonesia entah Bali, Kampung Sampierun atau bahkan jakarta yang sungguh sangat berbeda dengan New York, telah sempat memaksanya untuk berfikir sekaligus bertanya ”could indonesia be my end of the road” , jalan ribuan mil yang telah dilakuinya untuk mencicipi kuliner dunia apakah sudah perlu dicukupi sampai di sini, karena menurutnya dia teleh menemukan paradise yang sesungguhnya.
Oh….laksana surga memang Senayan sore itu. Tidak sabar untuk menunggu event ini datang kembali tahun depan. Bangsa ini sungguh beruntung memiliki kekayaan ribuan varian makanan yang menjadi sebuah “dosa besar” jika tidak dilestarikan.
Ketika penulis bergegas pulang, Budaya China, barongsai pun ditampilkan. Lengkap sudah keyakinan bahwa makanan Indonesia selain tarian adalah representasi terbaik Indonesia ke mancanegara sebagai menjadi pelengkap kekayaan Indonesia. Barongsai dan Tarian betawi, dua dari ratusan tari yang dapat ditemukan disama bagi penulis hampir sama analoginya dengan penganan 80 jenis yang datang menghampiri masyarakat. Mereka itu sebenarnya hanya sedikit dari ribuan jenis makanan lagi yang dapat kita lestarikan terus sebagai persembahan bagi anak cucu kita.
Dan saya berandai-andai , Anthonny Bourdain jika berkesempatan untuk mampir ke acara ini, niscaya mungkin akhirnya akan semakin menguatkan keinginannya untuk mengakhiri perjalanan kuliner keliling dunianya itu, dan akan berakhir di sini atau paling tidak dia sudah tahu bahwa ” food paradise” tidak jauh-jauh letaknya, dia ada di sini,
absolutely, i would really like to end my travels there and stay there until the end.
a friend told me that if you can get past the humidity, everything else is perfect!
Yes , you’re right sir persis sekali…kalau kita bisa memahami panasnya cuaca Jakarta, ! semuanya akan beres…..
Anda juga pasti setuju dengan ungkapannya !





>wah ketika bicara soal makanan ternyata semua orang adalah sama,tidak terkecuali ekonom macam Kang Ubay – pantesan acara Bondan sangat digemari siapa saja.
>kapan menulis buku baru lagi ? saya sdh baca 3 buku anda + yg ada dibuku gabungan, mumpung krisis financial mulai mereda, siapa tahu ada ide baru berinvestasi – ditunggu ya !
Ubay … kapan kita adu makan steak?
nanti minta Donny jadi sponsor nya … he3x
halo Pak Ubay….
blog-nya asik… ^^
salam,
Putu
makasih putu…putu juga aktif sekali blognya…jadi malu hehe