
Dunia keuangan memasuki episode baru dalam sejarah perkembangannya. Bertumbangannya raksasa-raksasa bisnis keuangan telah merubah sama sekali wajah perekonomian Amerika dan bahkan dunia. Mereka yang dalam banyak literatur ekonomi tahun 50an dianggap sebagai tokoh-tokoh protagonis karena telah berhasil melengkapi peran pemerintah dengan banyak menentukan arah dan keputusan ekonomi makro (Kross, Herman, 1955), saat ini jatuh dalam pesakitan dan terjebak dalam peran antagonis yang menyakitkan, menjadi pihak tertuduh pembawa virus (calon) depresi ekonomi. Menyebabkan banyak pihak tidak terlalu bersimpati untuk membantu, alasan terbesar mengapa bail out (talangan) ekonomi yang digulirkan pemerintah Amerika, mendapatkan tantangan terbesarnya.
Kondisi industri keuangan hari-hari ini pula yang telah mengingatkan kembali penulis pada Paul Krugman, ekonom kritis yang baru saja disematkan penghargaan Nobel 2008. Satu karyanya masih membekas sampai saat ini, sebuah buku berjudul Return of Depression Economics yang sebenarnya ditulis kurang lebih 10 tahun yang lalu, pada akhir tahun 1999, untuk memotret peristiwa ekonomi dan keuangan dunia ditahun 1990an. Meskipun demikian nampaknya buku tersebut masih sangat relevan dengan konteks turbulensi pasar keuangan saat ini dikaitkan dengan kemungkinan datangnya depresi.
Depresi ekonomi sendiri didefinisikan sebagai resesi yang berkepanjangan, ini berarti angka-angka “menyedihkan” indikator ekonomi seperti rendahnya pertumbuhan, tingginya pengangguran, tingkat kebangkrutan tinggi akan berlangsung dalam periode yang cukup lama, bertahun lamanya sampai suatu titik dimana akhirnya ekonomi mencoba untuk bangkit kembali. Kalau kita bicara depresi ekonomi kita tidak sekedar menyoal beragam krisis keuangan yang terjadi di era 90an sampai 2000an seperti krisis keuangan Asia 1997 atau meledaknya bubble internet di awal tahun 2001, karena jenis krisis keuangan tersebut akhirnya berakhir tidak lebih dari 5 tahun bahkan 3 tahun lamanya.
Yang menjadi referensinya adalah depresi besar di Inggris yang berakhir 23 tahun lamanya (1873-1896) atau yang cukup dekat, Malaise tahun 1929 yang salah satu moment of truth-nya terjadi ketika pasar modal runtuh dalam sehari di tahun 1929. Episentrumnya terjadi di Amerika dan seperti efek pendemik, kemudian diikuti oleh negara-negara lainnya baik Eropa, Amerika Latin bahkan Afrika, berakhir lebih dari 10 tahun, karena periode pemulihan baru kembali bergulir di tahun 1940-an meninggalkan ekonomi yang porak poranda dan kebangkrutan ratusan perusahaan besar.
Banyak pendapat soal apa yang menjadi pemicu depresi pada tahun itu, tetapi yang jelas ekses membabibutanya penyaluran hutang disepakati sebagai salah satu pendulum terbesarnya selain soal kembali diberlakukannya standar emas dan beberapa alasan lainnya. Meluapnya kredit baik yang disalurkan kepada institusi dan individu sebagai implikasi tingkat suku bunga rendah telah menjadi bencana ketika suku bunga berbalik arah. Seperti déjà vu dibandingkan dengan apa yang saat ini kita lihat, dengar dan rasakan.
Teori Hang Over- yang menegaskan bahwa depresi ekonomi ataupun sekedar resesi adalah imbas, ganjaran bahkan sebuah hukuman dari hasil kesalahan masa lalu- mungkin perangkat yang tepat untuk menggambarkan realitas masa kini. Ketidak hati-hatian dalam pemberian kredit disertai dengan dimensi baru ekonomi modern, menyeruaknya peran spekulator yang sangat intensif, dua hal yang besar kemungkinan menjadi ujung pisau tajam alasan terbesar datangnya depresi era baru.
Memang kalau kita membuka lembaran-lembaran literatur ekonomi lama, spekulator atau arbitrageur memiliki kontribusi secara dinamis dalam menciptakan single prevailing price yang dapat menjadi ukuran banyak orang dalam melakukan transaksi (Samuelson, 1948), akan tetapi karena kentalnya unsur spekulasi bahkan perjudian, akhirnya unsur stabilisasi harga justru menjadi bumerang dengan menjadi pemicu ketidakwajaran kenaikan harga sebelum akhirnya terpelanting jatuh .
Perbedaan dengan spekulator masa lalu yang justru lebih mengkhawatirkan adalah mereka saat ini dapat bermain di beragam industri karena perangkatnya adalah rekayasa keuangan yang bersifat universal dan lintas industri, kondisi yang pas benar diceritakan Herman Kross dalam “American Economic development: the progress of a business civilization” dan celakanya ini melibatkan leverage yang dahulu menjadi pemicu depresi.
Sayangnya tidak banyak yang benar-benar mengawasinya, seperti di Amerika, peran spekulasi yang dilakukan para Evil Speculator tidak mendapatkan kawalan regulasi yang cukup, selain itu begitu banyaknya investor berpengetahuan minim melakukan margin dan atau day trading dibarengi dengan tingkat hutang tinggi dan tabungan nasional yang disisakan pada tingkat minimum, maka tinggal menunggu depresi muncul di depan pintu rumah. Mungkin apa yang ada di benak banyak pengamat beberapa tahun belakangan bahwa negara seperti Amerika butuh kegagalan besar atau kejatuhan bank kelas atas untuk memberikan pelajaran atas pentingnya manajemen resiko bisnis, telah menjadi kenyataan (The Fed, The Inside story of the world’s most powerful financial institution drive the market, 2006).
Kejatuhan bank-bank kelas atas itu telah terjadi dan telah memberikan pelajaran pahit. Lupakan perusahaan-perusahaan elit macam Lehman Brother maupun Merril lynch yang penciptaan nilai tambah keuangannya lebih banyak didengar dari nilai tambah sosialnya. Kita perhatikan AIG yang tidak lain adalah legenda Amerika yang puluhan bahkan ratusan tahun telah bekerja dengan kesuksesan finansial dibalik fungsi sosial melindungi jiwa dan masa tua jutaan pemegang polis asuransinya atau Fannie Mae yang telah secara konsisten selama 40 tahun mewujudkan mimpi masyarakat untuk memiliki rumah, dikenal sebagai perusahaan legendaris dan dianggap salah satu perusahaan bervisi besar oleh Jim Collins di buku best seller dunianya, Built to last. Apa yang terjadi saat ini, para pencipta nilai tambah sosial ini pun bertumbangan. Inikah pertanda, krisis ini akan menembus banyak pintu-pintu lainnya?.
Harap-harap cemas yang wajar memang, apalagi dengan semakin meluasnya globalisasi keuangan dan semakin dekatnya pasar modal dengan masyarakat individu, belum pernah main street sedekat ini dengan wall street. Indeks Dow Jones yang telah melewati angka psikologis 10,000 berkorelasi cukup erat dengan terlewatinya angka psikologis 1500 di Jakarta. Mutual fund (Reksadana) telah membawa puluhan juta masyarakat berpartisipasi langsung maupun tidak langsung dengan pasar modal, bahkan ironisnya para pensiunan menempatkan mimpi-mimpi masa depannya juga di pasar modal dengan serangkaian produk yang memberikan kesempatan untuk melakukan investasi dan proteksi pada saat yang bersamaan, kunjungi galeri-galeri perusahaan sekuritas, di sana ruangan akan dipenuhi oleh para pensiunan yang asik mengutak-atik stockwatch, satu cara mengisi masa tua yang mengasikkan. Semua hal yang membuka peluang diskusi akan kembalinya malaise baru yang masuk melalui pasar modal. Setelah Lehman Brother, Merril Lynch, Amerika dan Eropa tersedak dengan kasus AIG dan Fortis yang notabene cukup kuat di sektor asuransi. Belum terdengar dari Asia, tetapi beberapa gejala epidemik mulai sayup-sayup terdengar.
Paul Krugman hanya berpesan bahwa setelah Mexico dan krisis berkepanjangan Argentina di Amerika latin, Asia 1997, Stagnasi ekonomi Jepang dan saat ini Amerika dengan efek bola salju Subprime Mortage ke segala penjuru angin yang belum terlihat berkesudahan telah membuka lagi wacana pertanyaan yang sudah ditutup lama Inikah tanda-tanda awal depresi ekonomi baru ? Histoire est repete?. Belum satupun pakar yang bisa dengan tegas menjawabnya.
(Kontan, 20 November 2008)