Feed on
Posts
Comments

Image Hosted by ImageShack.us

 

 

Di pagi yang cerah di penghujung tahun 2006, kami kedatangan seorang tamu spesial , pemenang Nobel ekonomi 2005, Robert J. Aumann yang berkesempatan memberikan stadium generale di depan komunitas akademis dari berbagai disiplin ilmu seperti ekonomi, keuangan, fisika, teknik, sosial politik, bertempat di Universitas Lausanne, Swiss. Bahkan diluar komunitas kampus, di deretan depan, duduk beberapa pemuka agama, rabbi, pendeta dan ulama lokal yang kemudian tampak menyimak isi ceramahnya dengan serius.

Orang boleh mengenalnya dengan raihan Nobel Ekonomi melalui perluasan ”Game theory (GT)”, tetapi dengan mengembangkannya ke berbagai bidang seperti korporasi, keuangan, gender bahkan konflik antar negara yang berpretensi agama, membuatnya disimak oleh kalangan yang luas. Ditambah dengan penyajian yang segar, jauh dari sekedar pemaparan formula matematika sehingga seketika menghilangkan semua kesan serius, datar dan kering seorang ilmuwan. Aumann yang sepintas lebih mirip tokoh agama, hari itu benar-benar menjadi bintang panggung.

Presentasi pertama yang dilakukannya adalah bagaimana membuat ruang kelas berfikir bagaimana memaksimumkan kemungkinan matchmaking diantara wanita-pria yang meminimumkan potensi tingkat perceraian karena dengan mempelajari ekspektasi dan keputusan antar gender yang menjadi kajian dasar GT akan mengurangi resiko ”salah jodoh”, karena ekpektasi seorang laki-laki terhadap perempuan idamannya-melalui serangkaian strategi persaingan dan perkongsian-telah didekati sampai ke tingkat yang optimum begitu juga sebaliknya antara wanita kepada pria.

Rekan satu program yang berasal dari Lebanon, mengacungkan tangan menanyakan kembali kemungkinan teorinya tersebut dapat membantu menyelesaikan konflik Israel-palestina. Pertentangan abadi yang menyebabkannya harus ”mengungsi” sesaat, melanjutkan studi demi menghindari imbas konflik tersebut kepadanya negaranya yang merupakan basis musuh Israel, Hisbullah. Sekali lagi, Aumann masih mengiyakan kalau suatu ketika nanti akan terdapat optimalisasi aliansi antar negara yang berujung perdamaian.

Pertanyaan silih berganti dialamatkan kepadanya, yang menarik lebih dari separuhnya mencoba menggali bagaimana implikasi GT dalam dunia keuangan entah itu strategi korporasi, merger dan akusisi bahkan konsolidasi bursa efek global . Game Theory memang semakin luas aplikasinya di dunia keuangan, Bahkan perintis GT, John Von Neumann dan Oscar Morgensten telah terkenal luas dengan VNM (Van Newmann Morgenstein) Utility Function di dalam literatur buku teks keuangan modern terutama dalam menggambarkan teori dan analisa pilihan-pilihan investor dalam kondisi ketidakpastian.

***

Peristiwa di atas berkaitan dengan buku ”Esai-esai Nobel Ekonomi” terutama dari segi pemikiran ekonomi yang ternyata semakin lama semakin banyak berseliweran di dunia keuangan, kira-kira itulah yang menjadi salah satu tema sentral buku terbitan penerbit Kompas ini bagi penulis yang berlatar belakang dan bergelut banyak di dunia keuangan. Pas sekali dengan preposisi yang disampaikan melalui iklan penerbitannya di salah satu media ibukota, ”Buku ini menyajikan deskripsi tentang pemikiran-pemikiran pemenang Hadiah Nobel bidang Ekonomi di dalam memahami perilaku para investor di pasar uang dan pasar modal”.

Disajikan secara runtun dari pemenang-pemenang awal yang diwakili oleh ekonom-ekonom ortodoks-berdasarkan ungkapan Prof Daoed Jusuf dalam tulisan ”Jari yang Menunjuk Bulan”- yang diwakili oleh Jan Tinderbergen (1969) dan Paul Samuelson (1970) sampai yang ekonom modern pemanang hadiah ini yang terakhir trio Leonid Hurwicz, Eric S. Maskin, Roger B. Myerson (2007). Tampak jelas segregasi evolusi kajian keuangan yang terlihat semakin meluas dari waktu ke waktu masuk dalam wilayah penelitian para nobelis ini.

Meskipun tidak ditulis spesifik dalam buku ini, dalam jejak rekam sejarah kita bisa mencatat dua nobelis ekonomi sekaligus, Kenneth J. Arrow (1972) dan Gerard Debreu (1983) berkolaborasi menjadi pelopor dalam memperkenalkan AD (Arrow-Debrew Securities)-dalam kerangka General Equilibrium Theory- di awal tahun 50-an yang menjadi landasan dan cikal bakal instrumen derivatif, instrumen manajemen resiko yang semakin lama semakin dipakai untuk alat spekulasi saat ini . Hanya saja keduanya buat komite nobel lebih dikenal kontribusinya dalam mengembangkan hal lain, misalnya Arrow dengan ”teori pilihan sosial” (social choice theory) atau dikenal dengan ’Teori kemustahilan Arrow” (Arrow’s impossibility theorem).

Selanjutnya ada catatan menarik bahwa sebelum EMH (Efficient Market Hypotesis) populer melalui Eugene Fama, Friedrich August von Hayek, (1974) telah memiliki catatan panjang ketertarikan soal informasi asimetris yang menjadi salah satu penyebab kegagalan pasar yang menjadi roh dari teori EMH tersebut.

Kemudian muncul James Tobin (1981), pada topik keuangan yang tak kalah hangatnya akhir-akhir ini, hubungan aliran pelarian modal dan fluktuasi mata uang. Ia dengan Tobin Tax-nya menawarkan sebuah solusi perpajakan bagaimana mengurangi spekulasi pada mata uang sehingga dapat menjinakkan aliran modal yang liar dari satu negara ke negara lainnya dengan memberikan pajak sekitar 0.1-0.25% pada setiap transaksi mata uang asing lintas negara yang terjadi. Akan tetapi sekali lagi, bukan itu yang membuatnya meraih Nobel Ekonomi, tetapi lebih pada kontribusinya mengembangkan model ekonometri yang mendukung sosoknya sebagai ekonom Keynesian yang percaya intervensi pemerintah penting dalam menstabilkan perekonomian .

Setelah mereka, barulah dunia keuangan menemukan momentumnya dengan kehadiran Franco Modigliani (1982) yang kita kenal sebagai salah satu suhu Corporate Finance bersama dengan Merton Miller, melalui teori Modigliani-Miller yang coba menunjukkan bahwa nilai perusahaan tidak dipengaruhi baik oleh pendanaan ekuitas meupun melalui hutang. Inilah karya ekonom yang yang diganjar nobel dengan kontribusi utama di bidang keuangan atau dalam hal ini corporate finance.

Setelah itu begitu banyak nobelis ekonomi yang secara langsung maupun tidak langsung memenuhi ruang perjalanan teori keuangan modern. Salah satu yang dibahas di sini adalah Maurice Allais yang narasinya ditulis oleh Pieter P. Gero. Di tulisan ini, Pieter mencoba mengangkat sosoknya sebagai anak penjaga toko yang mungkin melatarbelakangi keperpihakannya terhadap pembangunan berorientasi kepentingan umum. Penulis di sini mencoba menambahkan bagaimana kiprah pentingnya untuk dunia keuangan.

Kalau di Amerika, nama Maurice Allais (1988), mungkin kurang terdengar maka di kelas pengajaran keuangan Eropa, Allais paradox bahkan menjadi pembuka mata kuliah keuangan modern yang mengupas habis teori preferensi investor dalam melakukan investasi yang menjadi pengantar sebelum memasuki konsep rational expectation. Coba simak paradoks berikut ini :

Li (x, y, θ)

L1 (50, 0, 0.1), L2 (100, 0, 0.09)

L3(50, 0, 1), L4 (100, 0, 0.95)

Dimana :

x = hasil investasi yang dapat diperoleh dengan probabilitas (peluang) θ

y = hasil investasi yang dapat diperoleh dengan probabilitas 1- θ

θ = peluang

Bahwa seseorang yang dihadapkan pada pilihan mendapatkan hasil investasi (payoff) 50 dengan kemungkinan memperolehnya 10% dibandingkan dengan payoff 100 dengan kemungkinan 9% ternyata sebagaian besar akan memilih pilihan kedua, paradoksnya adalah jika situasinya seseorang harus memilih mendapatan payoff 50 dengan resiko rugi hampir tidak ada (0) dan payoff 100 dengan resiko rugi hanya 5% saja, mereka akan justru mengarah cenderung memilih pilihan pertama.

Ini semua menggambarkan bahwa seseorang rela untuk mengambil resiko lebih besar ketika peluang untuk mendapatkan payoff yang lebih besar hanya perlu disertai oeh resiko yang sedikit lebih kecil, tetapi ketika peluang untuk rugi tidak ada, mereka akan cenderung untuk berada pada ”status quo”. Analoginya ketika kita dihadapkan dengan pilihan berinvestasi di deposito atau obligasi pemerintah misalnya dibandingkan dengan berinvestasi di saham pada saat krisis ekonomi tahun 1997 lalu. Anda tahu keputusan apa yang akan diambil.

Kemudian yang perlu kita catat selanjutnya adalah ekonom yang menjadi legenda dunia keuangan, Harry M. Markowitz (1990) dengan teori portofolio modern (Modern Portfolio Theory)- nya. Rasanya sudah cukup banyak cerita tentang tokoh ini di berbagai buku teks, sehingga kita bisa berpindah ke tokoh yang lain. Robert E. Lucas Jr. (1995) yang punya konsepsi ekonomi keuangan yang menarik.

Inilah ekonom yang mendapatkan 3 ulasan sekaligus, masing-masing dari Prof Dr Wan Usman, Anton Sanjoyo dan Ekonom par excellence yang penulis sangat hormati, Almarhum Dr Sritua Arief. Kalau Sritua Arif lebih banyak mengulas sisi teori rational expectation-nya maka Prof Wan Usman menambahkannya dengan kontribusi Lucas dalam pengembangan teori pasar keuangan yang efisien .

Yang bisa dicatat juga di sini terkait dengan paparan Prof Wan Usman adalah Lucas merupakan ekonom pertama yang mengembangkan CCAPM (Consumption Capital Asset Pricing Model) dengan teorema Lucas Fruit Tree-nya yang telah berhasil mempertajam teori CAPM lama - yang memiliki banyak keterbatasan dan hanya terbatas pada analisa satu periode tertentu saja - dengan pendekatan yang lebih stochastic, memperlihatkan keterkaitan secara dinamis antara tingkat konsumsi dan saving dari masyarakat dengan pilihan-pilihan instrumen investasinya di masa depan apakah obligasi, saham atau derivatif.

Melanjutkan kajian Arrow-Debrew tentang derivatif, Robert C. Merton, Myron S. Scholes (1997) kemudian memperkuatnya melalui Black Scholes option pricing model yang telah dikenal luas saat ini, melengkapi pembicaraan soal derivatif di panggung keuangan modern

Di tahun 2000an, Nobel ekonomi-keuangan diwarnai dengan aroma baru, intrusi disiplin ilmu psikologi. Penulis masih ingat ketika Prof. Peter Bossaerts (Caltech) menyajikan kuliah tamu soal psikologi investor melalui peragaan simulasi prospect theory yang berakar dari pemikir Daniel Kahneman (Nobel ekonomi 2002) dan diikuti sekitar 50 orang mahasiswa.

Hasilnya, terrnyata memang investor juga manusia biasa yang sangat dipengaruhi oleh ruang bawah sadarnya. Tidak heran dalam praktek, profesional keuangan kadang lupa sesaat aspek-aspek fundamental dalam menilai harga aset yang sebenarmya dikarenakan riuh psikologi pasar yang hingar bingar dan perlu gerak cepat yang sayangnya sering dicerna tanpa rasionalitas. Teorinya mendapatkan sambutan yang luas dari profesional keuangan, memunculkan banyak buku yang membahas teorinya dengan pendekatan keuangan, salah satunya adalah Investment Madness: How Psychology affecting investment and what to do about it (Nofsinger,2003)

Di ruang financial econometrics, Prof Yohannes Surya, sang pengusung ekonofisika sangat pantas disimak pemikirannya karena tidak sedikit yang kurang nyaman dengan keyakinannya bahwa Fisika telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Ekonomi. Bahkan kalau perlu, beliau perlu juga bisa menambahkannya menjadi financeconophysic karena ulasannya tentang ekonom Robert F. Engle III dan Clive W. J. Granger (2003) juga mengingatkan penulis atas jasa mereka dalam mengajak praktisi keuangan untuk memahami dan mengambil kesimpulan dari pola pergerakan data time series harga saham atau option di emerging market dengan menggunakan perangkat statistik yang lebih dari sekedar mean, median dan standar deviasi sehingga presisinya lebih terjaga, seperti heteroscedacity (ARCH = autoregressive conditional Heteroscedastic) dan ARMA (auto regressive moving average).

Dua selebritis Nobel berikut juga pantas disimak. Dibalik pemikiran Joseph E. Stiglitz (2001) yang kontroversial dan konfrontatif, terkuak pula minatnya terhadap dunia keuangan yang cukup besar, salah satu yang cukup dikenal adalah bukti empiris yang dikemukakannya seputar issue corporate finance, bahwa pendanaan melalui privatisasi entah IPO atau strategic sale relatif kecil dari pendanaan perusahaan secara kesuluruhan (lihat Greenwald, Stiglitz, 1993)

Kita tidak tahu secara jelas apakah Amartya Sen (199 8) punya minat yang sama dengan para nobelis-nobelis lainnya di atas, tetapi penulis mmemperkirakan hal-hal seputar microfinance dan integrasi keuangan dengan pembangunan ekonomi bisa jadi menjadi salah satu perhatian Sen yang suatu ketika akan muncul ke publik dalam bentuk kajian.

***

Buku kumpulan esai nobel ekonomi ini begitu menarik bagi penulis, mungkin perlu tambahan berpuluh-puluh lembar halaman ulasan lagi untuk menuntaskannya. Buku ini benar-benar menggambarkan secara persis apa yang telah terjadi dalam dunia ekonomi selama dua dekade terakhir. Dekade dimana Nobel Ekonomi bisa sampai hampir separuh penerimanya didominasi oleh pemikiran ekonomi yang secara langsung maupun tidak langsung bersinggungan dengan dunia keuangan. Di beberapa kasus bahkan telah terjadi dialektika di dalamnya. Benar sekali tinjauan Prof Dr Dorodjatun kuntjorojakti yang menggunakan perangkat dialektika Hegellian untuk memulai pengantarnya terhadap buku tersebut

Contohnya dilalektika yang terjadi mulai Ketika Maurice Allais mengemukan bagaimana pasar modal adalah medan random walk bagi investor yang sedikit demi sedikit dapat dipatahkan dengan teori Merton-Scholes, bahwa sebenarnya pergerakan di pasar saham itu tidak benar-benar random kalau kita memecah-mecah waktu dalam spektrum yang sekecil mungkin , bagaimana mengikuti pergerakan saham setiap detiknya. Sehingga sebenarnya pasar saham lebih tepat dikatakan medan yang unrandomly dynamic bukan sama sekali random. Terjadi proses these-antithese-sinthese di sana..

Mungkin di kemudian hari perlu dihadirkan Nobel untuk dunia keuangan karena akan semakin deras pengaruh pemikiran ekonom bagi dunia keuangan. Misalnya setelah behavoural finance Kahneman berhasil mencuri perhatian dunia, bisa jadi pendalamannya sekarang yang dikenal dengan Neuro finance –sebuah disiplin yang digeluti dengan menggabungkan ekonomi, keuangan dengan dunia kedokteran- akan menjadi calon penerima nobel berikutnya. Atau Ito dengan Ito’s lemma-nya dan Tanaka, kedua nama fisikawan Jepang bisa masuk dalam posisi kandidat karena berjasa mempertajam pendalaman teori derivatif yang sudah dirintis para pendahululunya dengan pengembangannya dari teori presisi roket.

Bukan salah ilmu ekonomi yang sering dijuluki ilmu yang murung itu kalau para pemikirnya terbetot perhatiannya pada dunia keuangan modern. Atau dalam praktek misalnya semakin banyak ekonom yang bergabung dengan industri keuangan. Ini semata karena daya tarik, kompleksitas dan dinamisme dunia keuangan sendiri yang mengundang tidak hanya bagi ekonom klasik tetapi juga para matematikawan, fisikawan, pakar komputer, psikolog bahkan dokter.

Dan bagi ilmu keuangan sendiri, sumbangan para ekonom terdahulu terbukti sangat besar untuk menciptakan dan menjelaskan berbagai fenomena ekonomi-keuangan saat ini dan di masa mendatang. Perkembangan pasar modal yang semakin deras pertumbuhannya, bahu membahu bersama sistem perbankan dalam menyediakan kebutuhan pendanaan dan simpanan bagi masyarakat, telah mendukung kerangka berfikir Hernando de Soto dalam Mystery of Capital bahwa ”dead asset” harus bisa dijadikan modal , karena ”dead asset” inilah yangmembuat negara berkembang tetap miskin, dan pasar modal memberikan ruang untuk itu.

Juga menjelaskan evolusi kondisi mengapa terjadi Instabilitas dan meningkatnya resiko sektor keuangan saat ini, yang terbukti menjadi pemicu krisis ekonomi secara keseluruhan di berbagai negara. Juga buku ini mendokumentasikan sekaligus menyisir asal muasal munculnya instrumen derivatif dengan Hedge Fund sebagai panglimanya. Itu semua adalah hal-hal yang sudah masuk dalam ruang akademis puluhan tahun lalu yang efek praktisnya baru kita rasakan belakangan.

 

 

Catatan dari Gala Premiere, Jiffest 2007


Image Hosted by ImageShack.us

 

 

Sosoknya sebenarnya dapat dikatakan mungil. Jika seandainya tidak diberikan panggung yang sedikit lebih luas dan tinggi di center stage Balairung UI, niscaya tubuh kecilnya itu akan ditelan gemuruh paduan suara tenor, bariton, sopran dan bass ribuan mahasiswa baru yang saat itu dengan gegap gempita menyanyikan lagu ”Pahlawan Muda”. Sementara di sketsa yang lain, kita akan dibuat berdiri bulu romanya dengan riqueme tanpa henti puluhan ribu pendukung ”Singo Edan” Arek-arek Malang (Arema), menjelang pertandingan mereka dengan ”Bonek” Persebaya dan tanpa harus menunggu terlalu lama, penonton akan dibuai oleh repertoar Twilite Orchestra yang mendayu.

3 mosaik yang silih berganti mendatangi para penonton, yang malam itu juga sepertinya sepintas dapat dibagi menjadi 3 unsur utama, jurnalis film baik asing maupun lokal, para supporter sepakbola dan sekedar penikmat film.

Memang ada 3 episode yang membagi figur 3 trisula konduktor yang menjadi aktor utama film ini. Mas Dibyo (Paduan Suara Maba UI) , Yuli Soemphil’ Sugianto (Arema) dan Addie MS (Twilite Orchestra), yang menggambarkan sketsa kontradiktif di tengah masyarakat kita bahwa kepemimpinan harus diwakili entah oleh sosok gagah besar macam Maximus Decimus Meridius, kalau tidak ya.. berotak Habibie atau paling tidak mereka yang mendapatkan berkah titisan kekayaan ataupun darah biru dari keturunan di atasnya sehingga memungkinkannya mampu untuk ”membeli’ kekuasaan.

Semua persepsi tersebut telah dilanggar oleh Mas Dibyo yang mungil, Addie MS yang memutuskan cukup menjadi lulusan SMA, mengaku telah mengejutkan orang tuanya karena keputusannya itu, dan Yuli ”Soemphil’, seorang lulusan Aliyah yang sehari-harinya hanya bekerja sebagai penjual air mineral galonan. Tetapi lihatlah bagaimana jiwa kepemimpinan yang dibawa ketiganya diapresiasi ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu ”massa” yang berada di bawah komando arahan musikal mereka. Dan hasilnya jauh dari mengecewakan. Sebuah senandung. komposisi maupun histeria yang terkemas dalam balutan harmoni. Bagi Paulo Coelho “The Alchemist”, ini adalah antitesis dari apa yang menjadi bagian dari dialognya dengan Antonio dalam ”pilgrimage” bahwa supporter yang kehilangan kepercayaan akan membuat sebuah tim kalah dalam sebuah pertandingan yang telah mereka menangkan (Fans who lack the faith can make a team lose a game it is already winning).

The Conductors” memaksa kita memikirkan ulang proses pencarian sosok kepemimpinan sejati. Addie MS menekankan faktor talenta dan skill sebagai sumbu utamanya, karena di dalam teori semua orang bisa menjadi konduktor , hanya mereka yang bertalenta dan ketrampilan baik lah yang mampu menghasilkan harmoni karena memahami fungsi subtil dari unsur-unsur pendukungnya termasuk secara tegas dapat memberikan direksinya. Bahkan skill yang sangat istimewa akan menghasilkan masterpiece yang dapat mengangkat harkat derajat bangsa. Mas Dibyo menekankan soal kepercayaan dan kehormatan, karena dengan itulah dia bisa terus dipercaya memimpin paduan suara massal unik ini selama belasan tahun. Dan untuk Yuli, sederhana saja bahwa akseptansinya sebagai pemimpin didasarkan atas dedikasi yang berasal dari hati, jauh dari iming-iming materi apalagi semangat menguasai.

Itulah yang membuat ketiganya gampang saja mengarahkan “massa”nya, Yuli untuk ketulusannya itu telah membuat ketua PSSI, Agum Gumelar jatuh hati dan sengaja mengundangnya sebagai bagian dari komponen suporter di tengah acara yang diperuntukkan para pengurus ”yang terhormat” untuk menjadi contoh bagaimana seharusnya cara insan sepakbola mencintai klub dan tim nasionalnya . Dan anda tahu siapa itu Addie MS, tidak ada yang tidak tahu, prestasinya membawa pusaka musik simfoni ke ruang-ruang pop culture, ABRI mempercayakannya untuk membuat Mars mereka, betapa publik internasional bertepuk bagi pesona orkestranya, belum lagi berbagai pentas internasional yang telah menyematkan penghargaan di dadanya, bahkan nominasi grammy pun sempat dinikmatinya. Rektor UI boleh berganti, tetapi Mas Dibyo tetap ada di sana, mengeluarkan suara menggelegar, sebuah perpaduan maxi-mini bersinergi.Ketiganya jelas bukan Titus Flavius, konduktor otoriter yang harus mati sebelum permainan usai.

***

Film yang baik adalah yang mampu memberikan tidak sekedar intrepretasi tunggal terhadap pesan yang igin disampaikannya. Ini yang ditunjukkan oleh The Conductors. Jadi sungguh film ini bagi penulis bukan sekedar sebuah fim bertema ”sosiologi sepakbola’ ataupun film ’nasionalisme musikal’ yang mungkin menjadi interprestasi final bagi sebagian jurnalis film atau supporter Singo Edan, Arema atau The Jak yang hadir dalam premiere tersebut tetapi sebuah wacana dialektis yang memungkinkan setiap orang untuk mendefinisikan dan mencari pilihan-pilihan sosok kepemimpinan yang cocok untuk komunitasnya

Sebuah diskursus yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat kita saat ini yang sungguh haus mencari sosok pemimpin sejati, tidak saja untuk negaranya tetapi masyarakat kebanyakan. Bukti telah terhampar di depan mata bahwa Sepakbola kita beberapa tahun ini telah porak poranda tanpa konduktor yang punya hati dan kehormatan. The conductors menawarkan perpaduan alternatif kepemimpinan antara mereka yang punya talent (bakat dan keahlian), honor (kehormatan) dan passion (hasrat dari hati). Tiga unsur kepemimpinan yang tidak sulit membawa massanya untuk menempatkan nasionalisme sebagai titik zenith pencapaian. Sehingga sungguh sangat pas ketika akhirnya episode 3 tokoh ini berakhir dalam satu klimaks yang mengharukan ketika ”Indonesia Raya” dikumandangkan berpadupadan bersama-sama dalam ruang konser Twilite Orchestra, balairung UI dan Stadion Gelora Bung karno.

***

Film Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk berpenampilan premiere dalam Jiffest jelas kesempatan yang langka. Kesempatan ini sekaligus membanggakan bagi para personel dibelakang The Conductors, apalagi di tengah hadirnya film-film kaliber internasional seperti Persepolis yang memperoleh penghargaan dari juri pada Festival Cannes 2007 dan film lainnya seperti into the wild, Elcustodio, The US versus John Lennon dan Chants of Lotus, film-film ”seksi” dengan topik seputar permasalahan sosial, pencarian makna fidup, sikap politik dan kesetaraan gender.

Meski tidak tanpa cela tentunya, tata suara yang sampai di telinga pendengar harusnya bisa digarap lebih baik lagi apalagi Jiffest sendiri telah menggolongkan film ini bukan tentang sepakbola tetapi film musikal. Juga beberapa kesalahan penerjemahan dalam subtittle yang sesekali membuat para jurnalis asing menggaruk-garukkan kepala.

Lepas dari semua itu, film ini kaya dengan gagasan, soal kepemimpinan, etika berkehidupan termasuk di dalam sepakbola, yuli suatu kali mengatakan, supporter harus sadar bahwa klub dibiayai 80% dari pemasukan tiket, jadi haruslah malu kalau masuk stadion tanpa tiket, kalimat yang sungguh ibaat oase, keluar dari seorang yang hanya berpenghasilan 25,000 seharinya. Atau, bagaimana demokratisnya dia menentukan lagu atau yel-yel yang harus dinyanyikan, semuanya dikembalikan kepada para fans yang moodnya bisa berubah-ubah setiap waktu. Wong cilik yang lebih paham makna demokrasi dan hati nurani masyarakat ketimbang para pemimpin formalnya.

Bagi Andi Bachtiar ”Ucup” Yusuf . Film keempat menyusul trilogi sebelumnya, Jakarta is mine, Hardline dan The Jak, telah menunjukkan bahwa sosoknya sebagai sineas muda pengusung film dokumenter dengan tema-tema sepakbola-sebagai episentrum eksplorasi kreativitas-semakin menunjukkan kematangannya dalam berkreasi. Berbagai Film Festival berkaliber internasional telah menunggunya untuk berkiprah.

Dan… oh ya, bagi para mahasiswa atau mantan mahasiswa, selamat juga menikmati romantika masa-masa awal perkuliahan yang manis yang tidak secara sengaja akan anda temukan di film ini yang kembali akan diputar untuk umum pada weekend tanggal 16 desember nanti, atau kalau anda belum sempat mampir ke JIFFEST, film ini dapat disaksikan di bioskop, di awal Januari 2008 yang sudah dekat ini. Don’t miss it.

Sebagai teaser, cuplikan The Conductors bisa dilihat di Youtube :


Casino Royale

Image Hosted by ImageShack.us

 

 

Do you believe in God Mr Le Chiffre ?
No, I believe in a reasonable rate of return

 

Sudahkah anda menyaksikan film 007 yang terakhir, Casino Royale? Film ini menurut kritikus film adalah yang terbaik dari seri Bond yang ada selama ini setelah Goldfinger (1964). Berbeda dengan film-film sebelumnya, film James Bond kali ini punya nuansa yang lain bagi penulis. Bukan soal aktor utama, Daniel Craig yang pada awalnya banyak mengundang kontroversi karena dianggap kurang cocok untuk menampilkan sosok 007, atau kisah spionasenya yang menaikkan adrenalin begitu pula perangkat pendukung kegiatan Bond yang super canggih atau kiprah para gadis Bond yang “mengundang”, tetapi kali ini justru dengan saratnya unsur trik-trik keuangan dan pasar modal yang telah menghidupkan skenario film betotan sutradara Martin Campbell ini, dari cerita tentang berseliwerannya uang “panas” hasil korupsi dan pencucian uang, lika liku kehidupan Private Banker yang memfokuskan diri di pengumpulan dana terorisme, mekanisme short selling saham, fungsi kustodian bank dan investasi pada instrumen yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan belakangan ini, option.

Singkat kata, diceritakan bahwa tokoh Mr Le Chiffre (Mr angka dalam bahasa Perancis yang diperankan dengan sangat apik oleh aktor Mads Mikkelsen) adalah seorang private banker kelas kakap yang pada suatu saat mengelola dana panas dari nasabah di Mbale Uganda, yang juga seorang pembuat bom. Mr LeChiffre menempatkan dana yang dititipkan nasabah sebesar 100 juta dollar untuk diinvestasikan dengan melakukan shortselling saham perusahaan penerbangan, skyfleet dan pada saat yang sama membeli kontrak put option (hak untuk menjual instrumen keuangan tertentu pada harga tertentu-pada strike price- dan waktu tertentu di masa depan) dengan underlying saham penerbangan skyfleet tersebut. Dalam hal ini jenis instrumen yang dipilih adalah put option yang berjenis European option karena excersise dilakukan pada saat jatuh tempo.

Kemudian demi menangguk keuntungan luar bisa, dia mencoba merekayasanya dengan percobaan penggagalan peluncuran prototype pesawat dengan harapan harga saham perusahaan akan jatuh sehingga dia menangguk untung. Apa yang terjadi kemudian? Percobaan tersebut digagalkan Bond, alih-alih meraup capital gain dari short sell dan keuntungan dari kontrak option- sebesar K(Strike price) minus ST(harga saham pada saat kontrak expire) dikalikan dengan jumlah kontrak option yang dibeli-yang maksimum, Mr le Chiffre justru rugi ratusan juta dollar karena saham perusahaan terus naik seperti yang diperkirakan banyak analis.

Di tengah kepanikannya jika sewaktu-sewaktu si pemilik memerlukan uang itu kembali, Le Ciffres mempertaruhkan dananya di meja poker, di Casino Royale, Montenegro , dengan harapan dapat digunakannya untuk menutupi kerugian dari investasinya di pasar modal itu. Sekali lagi, harapan keuntungan ratusan juta dollar yang sudah ada di depan mata kembali digagalkan Bond, Le Chiffres harus menelan pil pahit, taruhannya bertambah besar dengan nyawa yang melayang bahkan sebelum film itu selesai .

Moral dari cerita di atas adalah memang benar adanya, sinyalemen bahwa begitu banyaknya uang panas beredar di dunia private bank, entah dari hasil korupsi, bisnis militer dan senjata, perampokan bank atau terorisme Kemudian dalam pengelolaan keuangan, pemilihan produk-produk investasi yang sesuai dengan karakter investor seharusnya menjadi tujuan pengelolaan kekayaan utama. Short selling diperlukan untuk menyemarakkan perdagangan saham, tetapi jika sudah tidak terkontrol yang ada adalah pasar modal sekedar menjadi ruang poker besar bagi para spekulator.

Selanjutnya intrumen Option yang sejatinya adalah instrumen nilai lindung yang menjaga posisi investasi nasabah pada satu instrumen investasi tertentu dan bukanlah ajang spekulasi. Mereka yang membeli option dengan underlying saham bisanya adalah mereka yang juga membeli saham tersebut bukan justru mereka yang mengambil posisi short atau mereka yang membeli foreign exchange adalah mereka yang memang memiliki exposure yang besar di mata uang asing, sehingga jika terjadi sesuatu dengan saham tersebut atau fluktuasi mata uang asing, kerugiannya sebagian dapat ditutupi dengan pembelian option tersebut

Masyarakat Indonesia yang senang bertransaksi saham dengan fasilitas margin trading atau mereka yang mulai menyenangi option jangan sampai memasuki episode Casino Royale ini. Setelah reksa dana dan saham sudah semakin familiar di telinga publik, kali ini giliran option yang mulai menarik perhatian dan unjuk gigi tetapi berhati-hatilah. Sekali lagi tidak ada yang salah dengan instrumen tersebut, karena toh instrumen ini sangat berbeda dengan investasi bodong semacam Qisar atau Dollar Fund-nya Dressel yang menguak kisruh, tetapi ketika option mulai sekali lagi ditawarkan dengan iming-iming yang setinggi langit tanpa mengingatkan potensi kerugian yang mungkin diperoleh, akan sama kasusnya dengan menggembar-gemborkan “kesaktian” reksadana misalnya yang selalu diperkenalkan sebagai instrumen yang lebih baik dari deposito tanpa memberitahu bahwa resikonya juga relatif lebih tinggi, termasuk informasi reksa dana pendapatan tetap bisa memberikan pendapatan yang sama sekali jauh dari tetap, bahkan minus , Karena tanpa keterbukaan semacam itu, kita mengulangi kesalahan yang sama, terjadi ekspektasi yang timpang antara nasabah dan pemasar, yang pada saat-saat tertentu bisa meledak,

Mudah-mudahan kita belajar dari kasus-kasus yang sudah ada, jangan kita tenggelam dengan option yang salah dimengerti, sebab kalau diurut-urutkan , intrumen ini memiliki fungsi utama dalam hal risk management selanjutnya baru untuk alat investasi dan spkeluasi adalah yang terakhir. Sekarang, masyarakat seolah-olah langsung dibawa ke ajang spekulasi dengan iming-iming setinggi langit Yang perlu diingat ketika tertarik dengan instrumen seperti option atau instrumen derivative lainnya adalah potensi kerugian yang mungkin terjadi (lihat tulisan penulis “risiko derivative”, Kontan 22 Mei 2007) ingat LTCM yang membawa jutaan dollar kerugian bagi investor, kasus Baring yang membawa Nick Lesson ke penjara bahkan dalam kasus Casino Royale, menjempu tokoh Le Chiffres ke gerbang kematian.

Bersikap lebih fair dengan memberikan informasi yang seimbang antara potensi return dan resiko yang dimiliki oleh option adalah kewajiban para pemasar dan hak asasi investor, bagi nasabah selalu senantiasalah bersifat kritis dengan paradigma bahwa tidak ada shortcut untuk mempeoleh keuntungan yang tinggi tanpa ada resiko dibalik supaya kita tidak terus menerus mengulangi kesalahan yang sama. Become very rich overnight? Come on….give me a break. Sudah benar apa yang akan dilakukan oleh Bapepam-LK untuk menertibkan kegiatan shortselling yang terkesan tidak terkontrol, masih ditunggu inisatif untuk soal option.

Dan bagi para penggemar film James Bond, ini film yang penulis sangat rekomendasikan untuk ditonton, hampir tanpa cacat. Memang akan ada sebagian yang kecewa dengan pemilihan aktor atau kehilangan sosok bond girl seperti Ursula andress atau Halle Berry atau kehilangan musik memikat seperti The Living Daylight- nya a-ha atau “A View to a Kill-nya” Duran Duran, tetapi kita sesungguhnya dapat kembali melihat film Bond yang kembali ke “khittah”, lebih fokus pada suspense yang total, intelek dan faktual ketimbang pernak-pernik lainnya.

(Swa Sembada, Oktober, 2007)

“kaum miskin itu menjadi miskin karena ruang kapabilitas yang kecil, mereka menjadi miskin karena tidak bisa melakukan sesuatu bukan karena tidak memiliki sesuatu”

(Amarthya Sen, Peraih Nobel Ekonomi 199 8)


Perjalanan dari Lausanne (Swiss) ke Malangbong (Garut) melalui Jakarta sesungguhnya merupakan perjalanan melompat katak (leap frog) dari sebuah tempat yang dikenal sebagai jawara perekonomian dan salah satu negara terkaya di dunia ke daerah yang masuk peta daerah yang masih butuh dibantu secara perekonomian, tetapi inilah yang penulis alami menjelang mudik lebaran tahun ini, kembali sesaat ke kampung halaman setelah menyelesaikan studi yang melelahkan sebelum memutuskan akan berkiprah kembali di rimba Jakarta yang keras.

Image Hosted by ImageShack.usUntungnya perjalanan kali ini tidak berujung lama karena 6 jam waktu yang dahulu dibutuhkan dari Jakarta telah dipangkas hanya menjadi sekitar 4 jam saja berkat kehadiran jalan tol Cipularang-nyi (Cikampek-Purwakarta-Padalarang-Cileunyi) juga karena bertemankan sebuah buku yang relevan dengan perjalanan lintas kultural ini. Buku yang sangat inspirasional berjudul “You Can Hear Me Now: How Microloans and Cell Phones are Connecting the World’s Poor to the Global Economy”, yang ditulis dengan dukungan cerita yang mengalir, didukung data dan riset yang intensif oleh Nicholas P. Sullivan, yang baru diterbitkan pada awal medio 2007 ini.

Buku itu bercerita tentang sebuah kisah yang terselip dari pemilihan Muhammad Yunus sebagai pemenang Nobel perdamaian 2006 yang belum banyak orang yang tahu. Selain soal kredit mikro yang digulirkannya, diceritakan juga bagaimana sesungguhnya memberdayakan banyak penduduk dan mengurangi angka kemiskinan dapat dilakukan melalui berbagai cara pendukung. Salah satunya yang menarik adalah massalisasi telefon selular (selanjutnya kita singkat dengan nama HP) di berbagai daerah remote dan sentra-sentra kemiskinan. HP bagi wanita-wanita disini berfungsi sama seperti sapi bagi petani atau peternak, perangkat untuk mencari sesuap nasi. Kalau petani memanfaatkan kredit untuk membeli sapi yang akan dipakainya membajak sawah atau bagi peternak untuk menghasilkan susu yang sebagian pendapatannya dapat dipakai membayar cicilan kredit, maka HP telah memobilisasi para phone lady yaitu ratusan wanita yang berfungsi sebagai wartel berjalan bagi penduduk sekitar yang membutuhkan alat komunikasi dengan beragam kebutuhan, melakukan pengecekan harga bahan baku sampai dengan mengontak sanak saudara yang tinggal jauh di seberang lautan, hal-hal yang sepintas agak di luar bayangan kita karena jangankan HP bahkan telekomunikasi fixed line pun di desa-desa miskin itu belum semuanya menjangkau setiap rumah tangga, juga ditambah dengan wanita-wanita itu pun belum memahami berbagai macam fitur telefon selular, seperti apa itu SMS, MMS apalagi dengan 3G.

Tetapi disinilah hebatnya Yunus, selain seorang ekonom pembangunan dia adalah seorang pengusaha yang dapat kita golongkan social entrepreneur. Sosoknya yang sederhana itu berhasil mengadopsi cerita klasik untuk memotivasi para penjual yang sering kita dengar di berbagai workshop pengembangan diri. Sebuah kisah yang bercerita bahwa akan ada 2 tanggapan ketika 2 orang ditawarkan menjual sepatu di suatu sudut Afrika yang bahkan tidak mengenal apa dan bagaimana wujud sepatu. Orang yang pertama akan melihatnya sebagai kemustahilan karena “bagaimana mau menjual sepatu, kalau enggak ada satupun yang tahu makhluk apa itu sepatu” sedangkan yang kedua justru sebaliknya dengan lantang akan mengatakan ‘ Ini dia pasar yang saya harus garap, inilah kesempatan emas, karena belum ada orang yang tahu apa itu sepatu”.

Langkah kedua lah yang dipakai Yunus yang mengerti benar bahwa kemiskinan bukan saja soal akses terhadap uang sebagai modal yang kurang tetapi juga akses kepada informasi yang menjadi tulang punggung seseorang untuk beraktivitas mencari nafkah. Isolation and lack of information are very serious obstacle to poverty eradication (Isolasi dan kekurangan informasi adalah penghambat utama penghapusan kemiskinan)” ujar Iqbal Qadir, CEO Grameen Telecom, seorang yang diberikan kendali menjadi salah satu nahkoda pengelolaan perusahaan selular tersebut padahal anak muda tersebut adalah lulusan Wharton dengan bekal pengalaman sebagai banker di Wall Street tetapi bersedia kembali membangun tanah airnya.

Bagi Yunus, Grameen Bank mungkin memiliki kontribusi terhadap si miskin , tetapi Grameen Phone lebih dari itu karena berdampak kepada seluruh perekonomian. Yunus yakin bahwa komunikasi antar orang yang mobile adalah kunci dari percepatan pembangunan lebih dari akses kepada keuangan.

Penulis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, membayangkan betapa suksesnya prinsip “sekali dayung 2 3 pulau terlampaui” yang dilakukan Muhammad Yunus ini. Selain bisnis bank dan telefon selulernya telah berhasil berkembang luar biasa, juga kerja kerasnya mengupayakan pengurangan kemiskinan dan pemberdayaan wanita telah dihargai berbagai pihak. Lebih dari 50 penghargaan internasional yang dipuncaki oleh Nobel menjadi bonus yang tidak tergantikan oleh uang sekalipun. Hari-hari ini GrameenPhone telah memiliki 10 juta pelanggan, berhasil menghubungkan 100 juta orang melalui peranan 250,000 Phone lady yang dimilikinya dengan kerjasama strategis bersama NOKIA dengan proyek yang dinamakan dengan Village Phone Direct .

Dari perspektif kinerja perusahaan, GrameenPhone memiliki pendapatan sebesar I milyar Dollar dan keuntungan tahunan sebesar 200 juta Dollar. Berkat GrameenPhone, di Bangladesh rata-rata pendapatan para phone lady yang sebelumnya adalah para wanita miskin meroket menjadi 4 kali rata-rata pendapatan per kapita masyarakat Bangladesh. Untuk itu Model Grameen Phone sebagaimana kredit mikro telah direplikasi ke berbagai negara seperti Filipina, Uganda maupun Rwanda.

Studi yang dilakukan sebuah universitas di London menyebutkan bahwa pertumbuhan sebesar 10% dari jumlah telefon selular dapat mengurangi kemiskinan hampir 2 kali lipatnya. Pada studi yang lain, ternyata dengan memberikan prioritas kepada wanita untuk menjadi phone lady membuktikan secara empiris menurunnya kekerasan dalam Rumah Tangga yang sering terjadi pada keluarga yang penghasilan yang didominasi oleh Pria

Kisah di atas telah memberikan inspirasi pada siapa saja, bahwa orang besar senantiasa berfikir beyond the boundary dan out of the box. Telekomunikasi seluler dan kredit mikro menjadi perpaduan yang sempurna tidak saja untuk menunjang pembangunan di suatu daerah tertinggal bahkan lebih dari itu meningkatkan kesejahteraan penduduk dan mengurangi jumlah orang miskin.

Dalam beberapa menit, ketika buku sudah separuh diselesaikan, Bus ternyata akan segera sampai ke rumah masa kecil Saya, bertemu Ibu yang memutuskan hidup ndeso setalah Ayah “pergi”. Saya membayangkan dia adalah seorang phone lady di tengah kesibukannya menjadi micro lender (aka tukang kredit), profesi banyak orang di Malangbong yang berdekatan dengan kabupaten Tasik itu. Ibu tidak perlu lagi berjalan baberapa kilometer untuk mengunjungi klien-kliennya setiap harinya, tetapi cukup mengendalikannya dari rumah.

Ketika melihat beberapa saudara dekat yang masih sangat sulit perekonomiannya, contohnya Ceu Bebah yang seorng janda dan tidak mampu menyekolahkan semua anaknya karena alasan ekonomi dan saat ini sedang bingung setengah mati bagaimana mencari dana untuk operasi bibir sumbing bagi anak terkecilnya, saya tiba-tiba membayangkan Anwara Khatun, satu dari 250,000 Phone lady dalam buku tersebut yang tinggal di kawasan Chamurkan, Bangladesh. Wanita ini sebelumnya (kurang lebih 10 tahun yang lalu) benar-benar berada di bawah garis kemiskinan karena tidak bekerja semantara suaminya hanya seorang pegawai/buruh harian yang kemudian meninggal. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya adalah dia sekarang telah menjadi “juragan” kecil yang mampu membeli segala perabotan keluarga yang diperlukan sekaligus dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana bahkan si sulung saat ini telah menjadi ekspatriat IT yang bekerja di Singapura.

Image Hosted by ImageShack.us

Apa yang dilakukannya untuk mengentaskan kemiskinan pribadi adalah membeli HP dengan kredit mikro menyewakan kepada siapapun yang memerlukan terutama para pria-pria pedagang sebesar 2 dollar /menit untuk telpon keluar internasional. 0.1 dollar/menit untuk menerima telefon internasional dan masing-masing 1 dan 0.05 Dollar setiap menitnya untuk telefon keluar dan masuk domestik. Dengan itu Anwara mendapatkan penghasilan 2000 dollar per tahunnya atau kurang lebih 4 kali lipat pendapatan pertahun masyarakat Bangladesh. Kisah sukses Anwara ini juga banyak dialami oleh Phone lady lainnya.

Hanya saja kembali lagi Saya berfikir ulang, di Bangladesh sana, salah satu keberhasilan program Phone lady karena ditunjang dengan kehadiran operator telefon lokal dengan pendirian salah satu anak perusahaan Grup Grameen, yaitu Grameen Phone yang mau memobilisasi sumber daya yang dimilikinya untuk mewujudkan mimpi-mimpi masyarakat kecil. Kalau di Malangbong, ataukah daerah-daerah miskin lainnya, adakah Iqbal Qadir-Iqbal Qadir baru yang mampu membangun mekanisme yang memungkinkan terjadinya mobilisasi penduduk desa agar dapat berkomunikasi dengan dunia luar sekaligus memperoleh pendapatan dengan muara mengeluarkan mereka dari batas garis kemisikinan, operator telefon yang berminat untuk menjadi grameen-grameen phone di Malangbong dan daerah-daerah remote lainnya, manjadi social enterpreuner bekerja sama dengan BRI misalnya untuk memberikan kredit telefon seluler sebagi prioritas utama selayaknya kredit-kredit lainnya , anyone?

15 tahun yang lalu seorang lelaki berkacamata dengan pandangan teduh, berpenampilan sederhana, bertutur kata halus masuk ke ruang kelas memperkenalkan Niccolo Machiavelli. Tentu tidak untuk mengikutinya, karena apa yang dijalaninya sehari-hari adalah segala tesis yang berkebalikan dengan semua yang dikatakan Machiavelli. Hidup yang tidak menghalalkan segala cara, sukses yang tidak harus mencelakakan orang lain, hidup yang beretika atau menurutnya hidup yang berkelas.

 

Ini awal ketertarikan gue sama sosok ini, di luar Mudji sutrisno, Frans Graf Von Magnis aka Romo Magnis adalah dua pengajar yang “asik banget” di program kuliah malam extra di sebuah kampus di bilangan salemba, runtun, knowledgable, keras tanpa harus memaki, lembut tetapi artikulatif. Membawa filsafat serasa membaca “Cintapuccino”, Bukunya “etika politik” selalu tersimpan apik di tas selain “Caping” GM, “mangan ora mangan, ngumpul” Umar Khayam, “desperately seeking paradise”Ziauddin Zardar, dan “Jendela jendela” Fira Basuki :-)

Hanya saja ada selalu sangsi karena di sini ucapan dan perbuatan kadang tidak berjalan dengan seiring. Mulutmu masih menjadi harimaumu.

Tetapi hari ini, selalu ada pengecualian atas stigma, etika yang senantiasa diajarkannya itu pula yang membawanya menolak segala penghargaan yang mengusik nurani biarpun harus kehilangan ratusan juta rupiah, karena tanyanya banyak dimiliki orang banyak, kok ya bikin ribuan warga “nelongso” tapi masih bisa tidur enak ya, lepas dari alasan apapun untuk membela diri.

Mengingat Magnis Suseno selalu membuat hari kemerdakaan sebagai sebuah hari yang “memerdekakan”. Setidaknya kita masih memiliki hari esok…

Hi everyone…

Finally i have a blog !!!!!!

I want to thank my wife for giving me such a nice blog… :-)

but….. how do we start ? confuse :-)

ok…as we have Harry Potter mania all around the world, let me start with my current article in “Kontan” tittled “Harry Potter Stock Index”…any comments are welcomed

Harry Potter Stock Index

Expecto Patronum !

Hari Rabu ini 25 Juli 2007, ada pemandangan yang membuat investor tersihir, saham distributor buku online, Amazone (AMZN) hanya dalam waktu satu hari meroket 25% dari angka 69 menjadi 86 dollar persahamnya padahal market sendiri hanya bergerak naik 0.5% saja. Hipotesa beberapa analis, yang memperkirakan akan ada apa-apa dengan saham Amazon ini dipicu mengkilapnya kinerja keuangan yang telah meraup keuntungan 3 kali lipat dibanding periode sebelumnya, dipuncaki dengan suksesnya penjualan buku terakhir hari Potter, menjadi terbukti adanya.

Harry potter tidak saja berhasil mengusir dementor dengan sihirnya tetapi juga telah merasuki imaji dan pikiran jutaan anak-anak sekaligus orang dewasa di seluruh dunia dari New York, London sampai Kabul, Afganishtan. Tidak kurang 325 juta eksemplar bukunya telah di terbitkan dalam 64 bahasa, sebuah penerbitan seri buku terbesar sepanjang sejarah penerbitan, mengangkat derajat sang penulis JK Rowling dari seorang single mother yang hidup hanya dengan subsidi pemerintah menjadi seorang entertainer wanita terkenal dan terkaya nomor 2 setelah Oprah Winfrey. Dan hari itu, 21 Juli 2007, kegairahan luar biasa melanda fans Harry Potter yang berkepentingan dengan penerbitan sekuel terakhir yang dinanti-nanti karena diduga menyimpan misteri bagaimana cerita 7 episode ini akan berakhir. Is he die or no?


Apakah Harry Potter juga bisa menyihir pasar modal. Sehari sebelum peluncuran buku terakhirnya Harry Potter cukup ramai di bicarakan di lantai bursa besar. Para praktisi dan pengamat pasar modal mencoba berhitung-hitung bagaimana Efek Harry Potter ini terhadap perdagangan saham hari itu dan beberapa waktu setelahnya, terutama di Bursa New York (NYSE), Nasdaq dan London Stock Exchange (LSE), bursa di negara tempat kelahiran Harry Potter. Mereka mencoba melihat seberapa besar relevansi dampak penjualan jutaan buku “Harry Potter and the Deathly Hallow” sekaligus puluhan juta pemirsa pemutaran film “Harry Potter and The Order of the Phoenix” -yang premiernya telah berlangsung beberapa waktu sebelumnya kepada saham-saham yang terkait dengan Harry Potter, meliputi para penerbit dan distributor buku, produser film, video games, assesoris permainan sampai perusahaan produsen peralatan mandi resmi Harry Potter yang semuanya telah go public selama bertahun lamanya.

Harry Potter pada hari terakhir bursa di Minggu itu menjadi salah satu tajuk utama dalam bincang pasar modal. Salah satunya ketika CEO Borders, George Jones sebuah jaringan toko buku terkemuka yang kalau kita berkunjung ke Singapura akan kita temukan salah satu cabangnya yang sangat luas dan cozy, dalam wawancaranya dengan babe of Wall Street, pembawa acara CNBC, Maria Bartiromo dalam sesi Closing Bell, Jones tidak bisa menutupi rasa senang dan optimisnya yang meletup-letup, membayangkan keuntungan dari penjualan 1.4 juta buku telah berada di depan mata , sehingga diharapkan dapat mendongkrak sahamnya.

Di tempat lain, Otoritas Nasdaq sengaja mengundang Scholastic CP, penerbit buku Harry Potter di Amerika untuk menutup sesi perdagangan di bursa Nasdaq yang dipenuhi petinggi Scholastic dan para pemenang lomba essai tentang Harry Potter yang datang dari berbagai sudut Amerika. Tidak berhenti sampai di situ euphorianya, salah satu situs terkemuka bagi investor saham, www.stockpickr.com sengaja membuat portfolio Harry Potter Stock index (HPSI) dengan underlying saham-saham yang terkait dengan aktifitas Harry Potter. Tak kurang ada belasan saham yang relevan masuk ke dalamnya. Blomsburry (kode perdagangan: BMBYF), Penerbit Harry Potter di Inggris) kemudian Scholastic CP (SCHL), penerbit utama buku Harry Potter di Amerika, Time Warner (TWX), pembuat film-filmnya HP, Amazon (AMZ), distributor buku HP tersukses , salah satu dari 3 saham sejenis di luar Barnes & Noble dan Borders, kemudian juga Mattel (MAT), produsen pernak-pernik permainan HP, Fossil (FOSL) sebagai Jam resmi HP, Johson & Hoh (Penyedia peralatan mandi resmi HP) dan beberapa saham lainya. Bagaimana kinerja indeks ini dibandingkan indeks-indeks yang lain?

 

 

Seperti yang dapat kita lihat, performance Dow Jones yang sebenarnya sudah sangat moncer 11 persen lebih dalam waktu kurang lebih setengah setahun ternyata berhasil dikalahkan oleh Portfolio Harry Potter ini. HPSI outperformed Dowjones dengan 13.5%. Sayang seribu sayang. Momen peluncuran buku tersebut datang bersamaan dengan koreksi teknikal pasar terhadap index yang memang telah diperkirakan sepat atau lambat akan terjadi, setelah baru saja Dow Jones Industrial Index (DJIA) mecetak angka psikologis baru 14,000 dan selama tahun 2007 saja telah menangguk untung 10% lebih, sehingga koreksi mejadi suatu kenyataan yang tidak terelakkan DI tengah haru biru HP, Indeks justru tumbang cukup dalam.. 202 point atau 1% lebih hanya dalam sehari itu saja, jum’at 20 Juli 2007, Menyebabkan indeks kembali ke level 13 ribuan.. Sebagian besar saham bertumbangan tidak terkecuali saham-saham “harry potter” tersebut, Nampaknya dementor sedang berkeliaran di bursa, meyerap energi bahagia para pelaku pasar dan mencari buronan-buroan yang terlepas, dan hari itu buronan-buronan tersebut bernama koreksi teknikal dan laporan keuangan beberapa emiten utama yang tidak memenuhi ekspekektasi, salah satunya Caterpillar meyebabkan sahamnya drop drastis 4% dan beberapa lainnya. Untungnya sehari sesudahnya di hari pembukaan senin, seiring dengan kenaikan harga-harga saham yang mengembalikan indeks ke angka psikologis 14.000 , telah mendongkrak kembali HPSI ini.

Semua kenyataan di atas memberikan semacam kesimpulan awal bahwa memang pedapatan cukup signifikan dapat diraih dari penjualan buku atau peluncuran film bagi saham-saham yang terkait dengan Harry Potter , juga pemasukan cukup besar bagi Scholastic misalnya utuk buybuck sebagian sahamya melalui Deutsche Bank. Tetapi ternyata tidak cukup memiliki magis dalam bekerja melawan pasar. Memang di arena yang lain, ajang simulasi games Hollywood Stock Excnge yang berisikan 1.4 juta pedagang saham semu. Perburuaan saham-saham Harry begitu menggilanya sehingga banyak pemain yang sengaja menjual saham-saham lainnya untuk dapat membeli saham Harry Potter . Tetapi ternyata di pasar saham sesungguhnya, Harry Potter memang mampu bernampilan lebih baik dari pasar tetapi tidak sampai bisa menyihirnya. Sekali lagi sebuah pembuktian bahwa tidak ada satupun yang dapat melawan pasar meski dengan tongkat ajaib Harry Potter sekalipun.

Sayangnya jaringan Border belum mendarat di Indonesia, sementara QB, Aksara, Gramedia, belum ada rencana untuk melepas kepemilikannya di pasar saham. Juga ternyata euphoria antrian ratusan bahkan ribuan orang untuk memperoleh buku terakhir tidak ditemukan di kota-kota besar di Indonesia, hari Sabtu kemarin, penulis dapat memperolehnya dengan mudah, tanpa antrian, tanpa desak-desakan. Alasan belum keluarnya edisi berbahasa Indonesia mejadi salah satu pemicunya sehingga efeknya terhadap bursa Jakarta yang terus joss entah sampai kapan, tidak terasa terlalu besar.


Lumos Maxima !