Feeds:
Posts
Comments

Tulisan ini saya dahulu saya persembahkan untuk rekan-rekan muda dimanapun berada, terutama Dr Firmanzah dan Dr Arianto, motor-motor  kaum muda di universitas. Khusus untuk Dr Firmanzah,semoga sukses menjalani tugas berat yang baru….

 

Kepemimpinan Pemuda 

 

 

Leon Botstein terpilih menjadi Rektor New Hampshire’s Franconia College di tahun 1970 dalam umur 23. Tak pelak, penunjukkannya tercatat sebagai salah satu rektor termuda sepanjang sejarah di Amerika Serikat. Dia mengemban tanggung jawab melakukan turn around terhadap kondisi yang centang perenang di kampus tersebut. Kebijakan pembaharuan yang dilakukannya ternyata dimulai dari langkah pertama yang tidak lazim, “bebaskan kampus dari keliaran anjing!”.

 

Bulan Agustus tahun 2007 ini, Universitas Indonesia (UI) memiliki pimpinan baru. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dengan sebuah pergantian kepemimpinan di kalangan perguruan tinggi, hanya saja yang berbeda saat ini adalah UI memasuki babak baru perjalananya dibawah nahkoda salah satu putra terbaiknya yang masih dapat dikatakan muda belia. Prof Dr Gumilar menjadi rektor di usia 44 tahun atau rektor termuda dalam sejarah UI. Langkahnya di awal mirip dengan Botstein, hadirkan lingkungan yang bersih dan memiliki jalur sepeda di kampus. Benar adanya, bahwa hal-hal besar dapat dimulai dari langkah kecil yang sederhana.

 

Bagi UI sendiri, peremajaan kepemimpinan tidak saja menyentuh pucuk tertingginya karena kamu muda mulai mengambil alih estafet kepemimpinan di berbagai institusi dalam ruang lingkup universitas, Di fakultas ekonomi dan hukum sebagai contoh , dekan terbaru mereka bahkan belum berusia 40 tahun ketika dilantik, dibawahnya berbagai direksi dan pimpinan departemen di lingkungan fakultas dipenuhi oleh anak muda usia 30an bahkan akhir 20, sebagian dari mereka baru pulang menggondol Phdnya, mereka-mereka yang dipersiapkan menjadi pimpinan teras unversitas dan bangsa di masa mendatang. Dan hebatnya tidak ada keluh kesah dari para senior,jaman berubah paradigma pun berubah.

 

Di Universitas Paramadina telah dipilih pengganti sosok guru bangsa yang juga rektor universitas selama ini, Almarhum Nurcholis Madjid , seorang anak muda yang dulu dikenal sebagai sosok aktivis mahasiswa yang setelah itu melanglang buana memenuhi dahaga inteletualismenya. Anis Baswedan baru berumur 38 ketika harus mengambil tongkat estafet yang sedemikian berat dibebankan padanya terlebih lagi sosok Cak Nur sudah sedemikian menyatunya dengan sejarah perkembangan Universitas Paramadina.

 

Adakah universitas-universitas tersebut kekurangan sumber daya senior yang berpengalaman sehingga harus mempertaruhkan reputasi universitas yang telah puluhan tahun terbina baik di tangan tokoh-tokoh muda yang bagi sebagian orang dianggap “anak kemaren sore” sehingga tidak cukup berpengalaman untuk mengemban tanggung jawab yang besar.

 

Nampaknya permasalahannya bukan terletak di sana, karena yang menjadi pemicu adalah terdapatnya kesadaran bahwa sudah saatnya kaum muda diberikan kesempatan untuk beraktulisasi dan membuktikan diri, tidak saja “mendobrak pintu” tetapi menjaga dan memimpin manaejemn rumah. Universitas memang menjadi garda terdepan kesadaran akan perlunya bangsa ini mulai mempercayakan kaum mudanya untuk memimpin. Mereka adalah pihak yang paling siap untuk menjawab diskursus pemimpin muda di pucuk pimpinan, bukan sekedar wacana yang dikembangkan banyak pihak tetapi langsung diimplementasikan di lapangan.

 

Alasannya sederhana,  perubahan mendasar di negara ini selalu dimulai dengan reaksi kaum muda idealis ini terhadap permasalahan besar bangsa,  mengorbankan waktu, tenaga maupun nyawa. Selain itu, kesadaran bahwa kompetisi global memerlukan energi, kesegaran pemikiran dan kreatifitas yang tinggi yang sungguh tidak dapat diakomodir oleh kepemimpinan yang lambat, penuh paradigma lama apalagi mereka yang masih menyepelekan soal governance. Kepemimpinan yang akan cepat absolete dan sekedar menjadi penonton persaingan kompetitif global. Bukan sekedar soal teknis, tuntutan untuk potong generasi sudah lama dimasukkan seabagai wacana ebangsaan untuk memisahkan bangsa ini dari stigma kebobrokan yang dibawa generasi tuanya

 

Sheila Kinkade dan Christina Macy dalam buku “Our time is now : young people changing the world ” menekankan kembali bahwa abad 21 adalah abad kaum muda, hal ini ditandai dengan  semakin berperannya pemuda dalam perubahan dunia. Dapat dilihat dalam buku mereka yang menarik itu,  bagaimana puluhan anak muda di seluruh penjuru dunia berpendar memperbaiki dan merubah komunitasnya ke arah yang lebih baik, lebih banyak dari apa yang kaum tua bisa lakukan dalam perbaikan komunitas tersebut. Tak sedikit dari mereka yang dapat kita lihat jejaknya : para akademisi muda.

 

Dengan misi yang kurang lebih sama, World Economic Forum setiap tahunnya mengadakan sesi Young Global leader yang mengundang sosok calon pemimpin bangsa yang saat ini berusia di bawah 40 bahkan sebagian dari mereka masih berusia dibawah 30 tahun untuk duduk bersama mendiskusikan berbagai problema kemasyarakatan global, menyongsong dunia baru yang penuh dengan pemimpin-pemimpin muda.

 

Kepemimpinan itu menular,.  Bukti nyatanya adalah dengan kiprah kaum akademisi di dunia birokrasi. Mereka mencoba menjalarkan hal-hal yang baik dilakukan oleh dunia kampus ke dalam birokrasi yang bobrok. Sebagai contoh, Menteri Keuangan, Sri Mulyani gencar dengan implementasi reformasi birokrasi hari-hari ini, Ketua BPK,Anwar nasution mengguncang jagat birokrasi dengan gerakannya menelanjangi berbagai institusi yang korup. Ini sebenarnya sekedar  bukti bahwa governance itu memiliki sifat contagious jika dipegang oleh mereka yang tepat. Terbukti kiprah akademisi yang kuat dapat memecah utopia bahwa birokrasi tidak dapat dirubah dari dalam. Hanya saja dalam soal pucuk pimpinan tertinggi negeri ini perlu waktu untuk bisa ke sampai ke sana.

 

Padahal belajar dari negara lain, Amerika serikat misalnya, Roosevelt (42 tahun menjadi Presiden), JFK (43), Clinton (46) begitu juga Tony Blair (43) di Inggris adalah figur-figur yang tidak saja muda tetapi tersukses dalam menjalankan roda pemerintahan. Saat ini dunia menunggu kandidat muda lainnya untuk muncul,  Barrack Obama adalah salah satunya. Kalau dia bisa menang membuktikan bahwa  kebutuhan atas birokrasi yang masih segar sudah menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

 

Kepemimpinan muda sangat dibutuhkan oleh bangsa ini, seperti banyak pengamat yang sudah memulai wacana Presiden muda untuk pemilu 2009. Negara ini yang oleh sebuah majalah internasional disebut sebagai “Negara paling sulit bagi  seorang Presiden” perlu darah muda dan pemikiran yang segar tidak saja unutuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan besar yang dihadapi bangsa tetapi juga untuk memutus generasi tua yang korup dan telah meninggalkan Indonesia dalam centang perenang.

 

Leon Botstein akhirnya tercatat tidak saja sebagai yang termuda tetapi juga rektor tersukses dalam melakukan transformasi internal pada lembaga pendidikan yang terancam bangkrut tersebut, merangkak kembali menjadi salah satu institusi pilihan masyarakat. Sehingga semakin kuat premis yang mengatakan bahwa kepemimpinan pemuda hanya soal kesempatan dan kepercayaan bukan soal kemampuan.

 

(Kompas, 28 September 2007)

 

Peran telefon selular dalam menciptakan dunia baru industri perbankan   sekaligus penentu masa depan dan fungsi “uang”.

 

 Perhatikan iklan yang sangat menarik berikut ini

 

 

 

 

 

Iklan di atas adalah  salah satu materi “oleh-oleh” yang penulis dapatkan ketika mengikuti sebuah seri pelatihan perbankan di Universitas Cambridge (Inggris) beberapa waktu lalu dan ternyata saat ini klipnya sudah dapat diakses secara luas di situs You tube.

Menurut pengajar di pelatihan tersebut, Iklan itu menggambarkan begitu besarnya peran Industri telekomunisasi seluler telah dan akan terus  merubah wajah layanan dunia perbankan saat ini dan masa depan .Secara kasat mata, iklan berdurasi 2 menit – yang mengusung peraih 8 emas medali Olimpiade Beijing, Michael  Phelps-  ingin mengatakan bahwa jika anda  memerlukan fasilitas perbankan, tidak perlu datang ke cabang bank bahkan membawa kartu apapun, karena semua transaksi perbankan dapat dilakukan langsung melalui genggaman anda lewat perangkat telefon seluler yang berfungsi tidak saja sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai kartu pintar (smart card).

Telefon selular yang juga berfungsi sebagai bank anda. Alat komunikasi yang menjelma ATM, kartu kredit atau kartu debit yang dapat digunakan dalam berbagai keperluan, untuk pembayaran karcis masuk jalan tol, belanja di department store, pembelian apapun secara tunai maupun kredit, transfer uang antar bank sambil terus dapat berkomunikasi dengan istri, suami, keluarga dan teman. Dan istimewanya lagi, semua aktivitas perbankan tersebut dapat dilakukan dengan waktu yang sangat cepat secepat  kayuhan renang Michael Pheps ketika mengalahkan lawan-lawannya, tinggal ketikkan kebutuhan perbankan anda di layar telefon atau dekatkan telefon anda ke layar alat pembayaran.. lakukan transaksi…..touch and go…..  as simple as that.

Inilah iklan yang membawa pesan bahwa telefon seluar akan menjadi titik sentral revolusi layanan perbankan di masa depan yang aktor utamanya adalah anda secara pribadi.

Simbiosa mutualisme industri Perbankan dan Telekomunikasi Selular

Di tengah kompetisi industri telekomunikasi yang sangat ketat bahkan yang paling padat sedunia, memang kerjasama antar industri sudah menjadi keharusan. Menurut catatan Merril Lynch, tidak  kurang dari 10 pemain industri telekomunikasi sedang bertempur memperebutkan kue pangsa pasar Indonesia, sebagai perbandingan 2 pasar terbesar di dunia saja yaitu Cina dan India hanya memiliki 2 dan 6 operator saja. Negara-negara di kawasan ASEAN pun rata-rata hanya memiliki 4-5 operator. Kehadiran banyak operator ini pula yang memberikan imbas pada akselerasi peningkatan panetrasi pasar telefon selular yang di tahun 2002 baru mencapai 5% saja, tetapi 6 tahun kemudian telah berlipat 10 kali lipat atau sekitar 50%.

Oleh karena itu para operator telekomunikasi, harus memutar otak bagaimana menjalin aliansi strategis yang erat dengan industri lain. Karena kebetulan penulis adalah seorang praktisi perbankan oleh karenanya yang dapat penulis potret adalah berbagai segi berbagi manfaat yang dapat dieksplorasi industri perbankan oleh atau terhadap industri telekomunikasi.

Dari perspektif dunia keuangan dan perbankan paling tidak ada 3 sinergi besar yang dapat dimungkinkan untuk terjadi. Sinergi  keuangan, pemasaran dan distribusi. Sektor telekomunikasi terbukti adalah salah satu industri yang paling tahan terhadap imbas dari  krisis. Berdasarkan pengalaman krisis keuangan Asia di tahun 1997, ternyata industri telekomunikasi saat itu bertumbuh relatif stabil. Boston Consulting Group (BCG)  dalam studi terbarunya di akhir tahun 2008 tentang outlook pasar consumer secara global mengemukakan temuan yang menarik bahwa di tengah kondisi Amerika dan dunia yang sedang krisis saat ini, consumer spending diperkirakan akan terus menurun tetapi tidak untuk sektor-sektor tertentu seperti consumer good, health care dan telecommunication.

Saat krisis, kebutuhan untuk komunikasi mungkin justru akan meningkat sehingga tidak sedikit pihak yang memprediksi, industri telekomunikasi tidak saja bertahan tetapi dapat menangguk untung dari krisis. Dengan struktur pendapatan perusahaan telekomunikasi yang sekarang didominasi dari teleomunikasi selular -lebih dari 50%  jauh di atas pendapatan bisnis telekomunikasi lainnya seperti Data Communication dan Broadband apalagi Fixed line business tak pelak lagi bisnis selular akan menjadi tumpuan utama.

Karena potensi besarnya,  sinergi pertama dari sisi keuangan terutama pendanaan relative akan mudah untuk terwujud. Dengan outlook yang baik, Kredit perbankan yanng dapat disalurkan ke Industri telekomunikasi dapat terus dikucurkan.  Kondisi ini adalah situasi yang sangat menguntungkan bagi keduanya. Industri Telekomunikasi-yang sangat butuh pembiayaan terutama untuk pembangunan berbagai sarana dan infrastuktur telekomunikasi dalam bentuk Capital Expenditure yang diperkirakan bisa mecapai lebih dari 7 Miliar Dollar di tahun 2009- akan sangat terbantu di tengah situasi pasar pendanaan yang kurang kondusif dengan macetnya pasar modal yang mana pendanaan melalui Equity maupun Bonds  tidak begitu mudah untuk direalisasikan. Di sisi lain,  perbankan terus dapat menjalankan fungsi intermediasinya di tengah risiko kredit macet yang terbuka lebar jika disalurkan kepada industri yang rentan krisis.

Dari sisi pemasaran, basis jumlah konsumen telekomunikasi dan perbankan adalah dua yang terkuat di dalam dunia bisnis saat ini. Kurang lebih 100 juta pelanggan jika berkolaborasi secara sinergis, bisa kita bayangkan potensi manfaat yang dapat diperoleh keduanya. Peluangnya masih terbuka lebar, karena tidak saja share of wallet dari nasabah perbankan dan product holding yang masih relatif kecil dibanding dengan negara-negara tetangga ( baru berkisar 2-3 produk saja dibandingkan Sinagpura dan Malaysia yang mencapai sekitar 5), juga dengan spending telekomunikasi yang baru mencapai 1.3% dibandingkan dengan GDP (sumber: Bloomberg, Macquire research , Nov 2008). Sementara di sisi lain, panetrasi 50% dari seluruh jumlah penduduk masih sangat mungkin untuk lebih ditingkatkan lagii. Jadi kalau dilihat dari jumlah konsumen dan potensi spending-nya, aliansi perbankan-telekomunikasi mungkin dapat dikategorikan mega aliansi.

Yang ketiga adalah ongkos distribusi yang lebih murah. Fitur dalam telefon selular telah membawa perbankan menjadikan telefon selular sebagai salah satu kanal  electronic channel utamanya dalam melayani nasabah. Tak kurang dari sms banking, mobile banking, internet banking apalagi dengan adanya perangkat blackberry dan lain-lain yang semuanya berujung pada kanal berbiaya murah dibandingkan dengan pelayanan melalui cabang. Saat ini e-channel  telah menjadi alternatif yang murah dan efisien dan telah mewakili lebih dari 25% dari point of sales dari perbankan kepada para nasabahnya, Berdasarkan catatan statistik pada  tahun 2007 saja total dari SMS banking User telah mencapai kurang lebih 6 juta pemakai belum termasuk potensi dari layanan internet banking yang ditengarai kira-kira mencapai lebih dari 2 juta pemakai.

Apa dampak langsung dari turunnya biaya distribusi tersebut?. Perbankan dan telekomunikasi dapat mengurangi salah satu allocated tebesarnya dan pelanggan pun ikut menikmati keuntungannya dengan tidak perlu capek-capek ngantri, tidak perlu ongkos tranportasi dan bensin serta 24 jam siang malam dapat terlayani dan yang terpenting ongkos bertelekomunikasi menjadi semakin murah. Jika di tahun 2005, biaya untuk komunikasi di Indonesia yang tadinya sekitar 17-18 sents setiap menit atau salah satu yang termahal di Asia setelah China maka hanya dalam 3 tahun telah turun ribuan persen bahkan kurang dari 2 sen atau yang termurah dari negara-negara lainnya. Semua untung semua senang.

Wajah telekomunikasi dan perbankan masa depan dan masa depan “uang”

Iklan Michael Phelps dan Visa di atas mungkin baru terjadi di Amerika sana, tetapi tidak tertutup kemungkinan dalam waktu dekat akan hadir di tengah-tengah kita masyarakat Indonesia. Yang jelas kartu touch and go telah hadir, kartu yang memungkinkan nasabah untuk tidak perlu waktu berlama-lama untuk melakukan transaksi tetapi cukup dengan bilangan detik , nantinya fungsi tersebut akan dapat dilakukan melalui telefon selular karena fungsi kartunya telah embedded di dalam telefon. Dan terus bergulirnya inovasi akan membawa kedua industri ini ke dalam koherensi yang semakin dalam di masa depan.

Potensi aliansi dua industri ini yang mungkin dapat memaksa para operator telekomunikasi untuk berfikir ulang atas masih perlunya perang tarif terus berlangsung. Orientasi perang harga kalau menurut pakar marketing Hermawan kartajaya, at the end of the day hanya akan meniciptakan situasi lose lose diantara pemain di industry tersebut .Seperti yang dilaporkan oleh Deutshe Bank, kalau terus dibiarkan, perang harga ini tidak hanya akan menggerus margin dari operator tetapi lebih dari itu akan mengganggu kelangsungan operasional. Kenyataan ini semakin terlihat dengan kemungkinan akan banyak terjadi merger dan akuisisi tahun depan karena sudah ada semetara pihak yang sudah tidak kuat menahan imbas dari perang harga. Saatnya sekarang optimalisasi aliansi antar industri  menjadi salah satu tema utama di tahun 2009

Jadi masa depan dunia perbankan niscaya akan berada di ujung HP anda, bagi perbankan dan telekomunikasi tentunya menjadi pilihan yang tidak terelakkan..operator akan mencari mitra perbankan paling potensial begitu juga sebaliknya…the race is on.

Untuk dunia ekonomi dan bisnis sendiri. Kehadiran telefon selular telah membawa kita pada sebuah diskursus baru tentang masa depan uang. Bahkan key note speaker  yang menutup acara training yang penulis ikuti tersebut,  Prof Joseph A Divanna, dari Universitas Cambridge, mengatakan bahwa dengan semakin vitalnya peran telefon selular dalam kehidupan manusia, pertanyaan besar selanjutnya mungkin dapat diajukan adalah seputar masih relevankah uang di masa depan karena fungsinya boleh percaya atau tidak, sedikit demi sedikit akan digantikan oleh telefon selular.

Mari kita flash back sejenak, uang hadir sebagai alat pertukaran ketika commodity money (emas, perak, tembaga dan lain-lain) yang menjalankan fungsi tersebut sejak tahun 1700 sebelum masehi, dirasa sudah semakin tidak efisien dan efektif. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, uang baik berbentuk logam maupun kertas semata karena biaya pembuatannya yang relatif mahal dan faktor keamanan keuangan mulai tergantikan oleh kartu plastik baik dalam bentuk kartu kredit ataupun kartu debet. Penggunaan kartu semakin meluas sehingga di negara-negara maju, ketika akan membayar, seseorang akan ditanya money or plastic ?.

Nah…saat ini ditengah semakin sibuk dan mobilenya aktivitas manusia, kartu pun dirasa tidak cukup efektif dan efisien terutama dari segi penggunaan waktu dan keterkaitan fungsi. Waktu yang diperlukan untuk menggesek kartu kemudian menandatangani atau memasukkan pin kira-kira perlu 3-5 menit, waktu yang cukup lama untuk dunia yang semakin cepat hari ini,    juga saat kita bertransaksi fungsi komunikasi terpaksa harus ditanggalkan sesaat. Di sanalah telefon selular muncul sebagaimana digambarkan dalam iklan Phelps di atas, cepat sekaligus kesempatan berkomunikasi ketika bertransaksi. Mungkinkah suatu saat nanti telefon selular akan benar-benar menggantikan fungsi bank bahkan uang itu sendiri ?  lets wait and see.

 

 

 

 

 

krugman_22

 

Dunia keuangan memasuki episode baru dalam sejarah perkembangannya. Bertumbangannya raksasa-raksasa bisnis keuangan telah merubah sama sekali wajah perekonomian Amerika dan bahkan dunia. Mereka yang dalam banyak literatur ekonomi tahun 50an dianggap sebagai tokoh-tokoh protagonis karena telah berhasil melengkapi peran pemerintah dengan banyak menentukan arah dan keputusan ekonomi makro (Kross, Herman, 1955), saat ini jatuh dalam pesakitan dan terjebak dalam peran antagonis yang menyakitkan, menjadi pihak tertuduh pembawa virus (calon) depresi ekonomi. Menyebabkan banyak pihak tidak terlalu bersimpati untuk membantu, alasan terbesar mengapa bail out (talangan) ekonomi yang digulirkan pemerintah Amerika, mendapatkan tantangan terbesarnya.

Kondisi industri keuangan hari-hari ini pula yang telah mengingatkan kembali penulis pada Paul  Krugman, ekonom kritis yang baru saja disematkan penghargaan Nobel 2008. Satu karyanya masih membekas sampai saat ini, sebuah buku berjudul Return of Depression Economics yang sebenarnya ditulis kurang lebih 10 tahun yang lalu, pada akhir tahun 1999, untuk memotret peristiwa ekonomi dan keuangan dunia ditahun 1990an. Meskipun demikian nampaknya buku tersebut masih sangat relevan dengan konteks turbulensi pasar keuangan saat ini dikaitkan dengan kemungkinan datangnya depresi.

Depresi ekonomi sendiri didefinisikan sebagai resesi yang berkepanjangan, ini berarti angka-angka “menyedihkan” indikator ekonomi seperti rendahnya pertumbuhan, tingginya pengangguran, tingkat kebangkrutan tinggi akan berlangsung dalam periode yang cukup lama, bertahun lamanya sampai suatu titik dimana akhirnya ekonomi mencoba untuk bangkit kembali.  Kalau kita bicara depresi ekonomi kita tidak sekedar menyoal beragam krisis keuangan yang terjadi di era 90an sampai 2000an seperti krisis keuangan Asia 1997 atau meledaknya bubble internet di awal tahun 2001, karena jenis krisis keuangan tersebut akhirnya berakhir tidak lebih dari 5 tahun bahkan 3 tahun lamanya.

Yang menjadi  referensinya adalah depresi besar di Inggris yang berakhir 23 tahun lamanya (1873-1896) atau yang cukup dekat, Malaise tahun 1929 yang salah satu moment of truth-nya terjadi ketika pasar modal runtuh dalam sehari di tahun 1929. Episentrumnya terjadi di Amerika dan seperti efek pendemik, kemudian diikuti oleh negara-negara lainnya baik Eropa, Amerika Latin bahkan Afrika, berakhir lebih dari 10 tahun, karena periode pemulihan baru kembali bergulir di tahun 1940-an meninggalkan ekonomi yang porak poranda dan kebangkrutan ratusan perusahaan besar.

Banyak pendapat soal apa yang menjadi pemicu depresi pada tahun itu, tetapi yang jelas ekses membabibutanya penyaluran hutang disepakati sebagai salah satu pendulum terbesarnya selain soal kembali diberlakukannya standar emas dan beberapa alasan lainnya. Meluapnya kredit baik yang disalurkan kepada institusi dan individu  sebagai implikasi tingkat suku bunga rendah telah menjadi bencana ketika suku bunga berbalik arah. Seperti déjà vu dibandingkan dengan apa yang saat ini kita lihat, dengar dan rasakan. 

Teori Hang Over- yang menegaskan bahwa depresi ekonomi ataupun sekedar resesi adalah imbas, ganjaran bahkan sebuah hukuman  dari hasil kesalahan masa lalu- mungkin perangkat yang tepat untuk menggambarkan realitas masa kini. Ketidak hati-hatian dalam pemberian kredit  disertai dengan dimensi baru ekonomi modern, menyeruaknya peran spekulator yang sangat intensif, dua hal yang besar kemungkinan menjadi ujung pisau tajam  alasan terbesar datangnya depresi era baru.

Memang kalau kita membuka lembaran-lembaran literatur ekonomi lama, spekulator atau arbitrageur memiliki kontribusi secara dinamis dalam menciptakan single prevailing price yang dapat menjadi ukuran banyak orang dalam melakukan transaksi (Samuelson, 1948), akan tetapi karena kentalnya unsur spekulasi bahkan perjudian, akhirnya unsur stabilisasi harga justru menjadi bumerang dengan menjadi pemicu ketidakwajaran kenaikan harga sebelum akhirnya terpelanting jatuh .

Perbedaan dengan spekulator masa lalu yang justru lebih mengkhawatirkan adalah mereka saat ini dapat bermain di beragam industri karena perangkatnya adalah rekayasa keuangan yang bersifat universal dan lintas industri, kondisi yang pas benar  diceritakan Herman Kross dalam “American Economic development: the progress of a business civilization” dan celakanya ini melibatkan leverage yang dahulu menjadi pemicu depresi.

Sayangnya tidak banyak yang benar-benar mengawasinya, seperti di Amerika, peran spekulasi yang dilakukan para Evil Speculator tidak mendapatkan kawalan regulasi yang cukup, selain itu begitu banyaknya investor berpengetahuan minim melakukan margin dan atau day trading dibarengi dengan tingkat hutang tinggi dan tabungan nasional yang disisakan pada tingkat minimum, maka tinggal menunggu depresi muncul di depan pintu rumah. Mungkin apa yang ada di benak banyak pengamat beberapa tahun belakangan bahwa negara seperti Amerika butuh kegagalan besar atau kejatuhan bank kelas atas untuk memberikan pelajaran atas pentingnya manajemen resiko bisnis, telah menjadi kenyataan (The Fed, The Inside story of the world’s most powerful financial institution drive the market, 2006).

Kejatuhan bank-bank kelas atas itu telah terjadi dan telah memberikan pelajaran pahit. Lupakan perusahaan-perusahaan elit macam Lehman Brother maupun Merril lynch yang penciptaan nilai tambah keuangannya lebih banyak didengar dari nilai tambah sosialnya. Kita perhatikan AIG yang tidak lain adalah legenda Amerika yang puluhan bahkan ratusan tahun telah bekerja dengan kesuksesan finansial dibalik fungsi sosial melindungi jiwa dan masa tua jutaan pemegang polis asuransinya atau Fannie Mae yang telah secara konsisten selama 40 tahun mewujudkan mimpi masyarakat untuk memiliki rumah,  dikenal sebagai perusahaan legendaris dan dianggap salah satu perusahaan bervisi besar oleh Jim Collins di buku best seller dunianya, Built to last. Apa yang terjadi saat ini, para pencipta nilai tambah sosial ini pun bertumbangan. Inikah pertanda, krisis ini akan menembus banyak pintu-pintu lainnya?.

Harap-harap cemas yang wajar memang, apalagi dengan semakin meluasnya globalisasi keuangan dan  semakin dekatnya pasar modal dengan masyarakat individu, belum pernah main street sedekat ini dengan wall street. Indeks Dow Jones yang telah melewati angka psikologis 10,000 berkorelasi cukup erat dengan terlewatinya angka psikologis 1500 di Jakarta. Mutual fund (Reksadana) telah membawa puluhan juta masyarakat berpartisipasi langsung maupun tidak langsung dengan pasar modal, bahkan ironisnya para pensiunan menempatkan mimpi-mimpi masa depannya juga di pasar modal dengan serangkaian produk yang memberikan kesempatan untuk melakukan investasi dan proteksi pada saat yang bersamaan, kunjungi galeri-galeri perusahaan sekuritas, di sana ruangan akan dipenuhi oleh para pensiunan yang asik mengutak-atik stockwatch, satu cara mengisi masa tua yang mengasikkan. Semua hal yang membuka peluang diskusi akan kembalinya malaise baru yang masuk melalui pasar modal. Setelah Lehman Brother, Merril Lynch, Amerika dan Eropa tersedak dengan kasus AIG dan Fortis yang notabene cukup kuat di sektor asuransi. Belum terdengar dari Asia, tetapi beberapa gejala epidemik mulai sayup-sayup terdengar.

Paul Krugman hanya berpesan bahwa setelah Mexico dan krisis berkepanjangan Argentina di Amerika latin, Asia 1997, Stagnasi ekonomi Jepang dan saat ini Amerika dengan efek bola salju Subprime Mortage ke segala penjuru angin yang belum terlihat berkesudahan telah membuka lagi wacana pertanyaan yang sudah ditutup lama  Inikah tanda-tanda awal depresi ekonomi baru ? Histoire est repete?. Belum satupun pakar yang bisa dengan tegas menjawabnya.

(Kontan, 20 November 2008)

 

 

 

 

Food is coming from heaven

(pepatah Cina)

Baru saja Saya mendarat di Bandara Soekarno Hatta dari sebuah perjalanan dinas ke Manado yang merupakan rangkaian beruntutan setelah Surabaya, Bandung dan daerah lainnya di Indonesia . Bepergian ke pelosok nusantara dalam konteks bekerja sesungguhnya melelahkan, meskipun demikian untungnya ada dimensi lain perjalanan yang selalu memaksa kita rindu untuk kembali ke daerah-daerah tersebut.


Bepergian di Indonesia berarti juga perjalanan menikmati kenikmatan kuliner di tempat yang kita singgahi, tak kurang di Manado, saya berkesempatan menikmati pedas dan nikmatnya “woku belanga”, “Cakalang/Nike rica-rica”, “tinutuan” dan kue “Panada”….… e do do e…pe sadap skali jo….. Beberapa waktu sebelumnya di Surabaya, Bebek Goreng dan makanan tradisional “Bumbu Desa” yang meski franchisenya tersebar dimana-mana tetapi percayalah rasanya akan unik di setiap tempatnya. Di Bandung, “serabi imut”, “yoghurt cisangkuy”, “batagor kingsley” ataupun “rumah nenek” menjadi selingan di tengah presentasi-presentasi panjang pekerjaan.

Selanjutnya perjalanan kuliner ini akan hinggap di kota saya, Jakarta. Kesempatan ini menjadi istimewa karena acara yang telah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, Festival Jajajanan Bango (FJB) datang kembali tahun ini.

Karena FJB ini adalah ajang langka, hanya diadakan satu kali setiap tahunnya, saya bertekad harus bisa datang meskipun dengan konsekuensi memperpendek satu hari kunjungan kerja tersebut agar dapat memiliki kesempatan untuk hadir di hari terakhir dan sengaja mengosongkan perut dengan tidak mencicipi makanan pesawat . Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang, saya harus bergegas ke Senayan.

***

Siang itu sesungguhnya sangat terik untuk ukuran Jakarta sehari-hari, matahari rasanya tak lebih dari sejengkal dari ubun-ubun. Tetapi humiditas ini berubah menjadi oase bagi sebagian masyarakat Jakarta termasuk saya.. Preposisi 80 jenis makanan dalam 2 hari sungguh mengundang selera. Beberapa memang sudah pernah saya rasakan di seputar Jakarta, entah dalam kesempatan makan siang dengan teman-teman kantor atau sekedar menuntaskan rasa lapar selesai berolahraga. Kambing pondok sate pejompongan, Makanan menado Beutika, ketoprak ciragil, Ayam Taliwang Blok M, Ice Krim Ragusa sudah bukan penganan asing lagi… i’m hungry for more

Sampailah saya sudah di area ratusan meter persegi yang tersebar dalam 3 kelompok besar, sektor kanan yang menghadap ke Hotel Century Park, sektor kiri yang lebih dekat ke JHCC dan sektor tengah yang juga berfungsi sebagai panggung utama, semua sudut tersebut fully booked, masyarakat tumpah tuah di sana. Tidak ada pembagian jenis makanan khusus di setiap sektornya, justru di sinilah asiknya karena bau semerbak datang dari segala penjuru sudut sambil bingung memilih, makanan beruntung mana yang pertama yang akan saya terpilih. Yang datang pun beragam terlihat di sini mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak (dan panitia pun sudah mengantisipasi dengan menyediakan arena bermain anak-anak), ibu-ibu menenteng bayi. Saya yang rusuh bergegas datang dari bandara, bahkan banyak yang segaja datang dari kondangan perhelatan perkawinan untuk mampir seperti beberapa orang berbaju kebaya ini. Tidak peduli panas serasa ada di, semua tumpah ruah dihimpit 80 jenis makanan lezat yang ada di sekeliling.

Akhirnya dari berpuluh-puluh alternatif pilihan, penulis memutuskan untuk membeli Mi aceh Seulawah jalan Benhil, mi ayam pak loso kumis Jl Irian/Ambon pangsit basahnya sungguh maknyusss, Nasi Goreng Kambing Kebon sirih, nasi goreng merah Makassar dari RM Makassar pelangi, nasi goreng gila gondrong jalan besuki, Tongseng jatinegara Warung sederhana, Asinan spesial Ny Isye Kamboja sampai pizza-nya orang betawi, kerak telor.

Secara total, walhasil 15 pengenan dengan suksesnya saya angkut ke rumah, mudah-mudahan bisa tahan lama di kulkas. Untungnya keluarga kami yang senang jajanan ini tidak perlu berlama-lama untuk melahap semua penganan yang ada, Emil yang maniak nasi goring tidak menyisakan sedikitpun beberapa jenis nasi goring yang sengaja saya bawa untuk menuntaskan hasrat pada nasi gorengnya yang overdosis. Makan tongseng plus ikan rica-rica, what a weird combination, buat EGP…jangan sampai makanan-makanan ini terlewatkan karena sudah expire besok atau lusa.

* * *

Mungkin benar pepatah konghucu di atas bahwa makanan Indonesia bukan sekedar penganan yang mengenyangkan tetapi anugrah yang dikirimkan Tuhan kepada negara ini, sebuah pemberian dari Surga yang menyelinap lewat tangan-tangan terampil maestro kuliner dan rasanya direguk jutaan penikmatnya.

Makanan Indonesia bagi saya pribadi bukan sekedar sesuatu yang masuk di rongga mulut . Tetapi jauh melewati batas fungsi mengenyangkannya, sebagai kekayaan bahkan salah satu identitas bangsa. Kekayaan itu akan semakin terasa ketika kita melanglangbuana ke negeri orang. Karena itulah, betapa di berbagai kesempatan ketika saya tinggal di Singapura sebagai misal, dalam sebuah ajang food festival kecil-kecilan betapa mie goreng dan sate ayam buatan orang rumah yang dikirim harus dibuat kembali minggu depannya karena banyaknya permintaan untuk dapat mencicipinya kembali. atau Rendang bawaan ibu di Swiss tak henti-hentinya dibicarakan teman satu asrama sambil sesekali bertanya kapan lagi orang rumah akan mengirimkan . Di saat-saat seperti itulah kuliner Indonesia menjadi bagian yang terpisahkan dari identitas saya sebagai seorang Indonesia. “Rendang Man” bahkan menjadi panggilan penulis di Swiss.

Oleh karena itu mengapa banyak orang asing yang kerap kembali ke Indonesia. Sebagian Chef memutuskan untuk tinggal di Bali atau Bandung karena, kuliner Indonesia membuat mereka merasa neagara ini sangat dekat dengan keseharian mereka…indonesia bukan sebuah negara asing tetapi adalah home. Memang surga makanan adalah home bagi para Chef.

Jean Gelman dalam bukunya Taylor, Jean Gelman (2003). Indonesia: Peoples and Histories. New Haven and London: Yale University Press, pages 8-9, menggambarkan Indonesia sebagai telah dikenal sebagai surga makanan sejak ribuan tahun lalu, pada abad 16, orang Eropa pertama kali menemukan bagaimana nasi menjadi makanan yang prestisius bagi kalangan bangsawan di Jawa.

Bisa anda bayangkan betapa puluhan daerah memiliki jenis masakannya bahkan konon ribuan pulau yang melingkari pun emiliki kekhasan makanan tersendiri, betapa kayanya bangsa ini dengan varian kuliner yang sampai saat ini kualifikasinya buat saya prbadi kalau tidak “enak” ya enak sekali”

Anthony Bourdain, chef yang telah melanglang buana dengan mengusung acaranya yang telah mengglobal “No reservations”, dalam sebuah perjalanannya menyusuri nusantara yang menurut penulis salah satu reportase terlengkap wisata kuliner orang asing di Indonesia, telah membawanya merasakan dodol garut, gule otak, warung padang, durian yang digambarkannya ”Smelling bad but feeling good”, nasi goring, Serabi, ”pancake of Indonesia”.

Dibalut dengan suasana ”melankolis” Indonesia entah Bali, Kampung Sampierun atau bahkan jakarta yang sungguh sangat berbeda dengan New York, telah sempat memaksanya untuk berfikir sekaligus bertanya ”could indonesia be my end of the road” , jalan ribuan mil yang telah dilakuinya untuk mencicipi kuliner dunia apakah sudah perlu dicukupi sampai di sini, karena menurutnya dia teleh menemukan paradise yang sesungguhnya.

Oh….laksana surga memang Senayan sore itu. Tidak sabar untuk menunggu event ini datang kembali tahun depan. Bangsa ini sungguh beruntung memiliki kekayaan ribuan varian makanan yang menjadi sebuah “dosa besar” jika tidak dilestarikan.

Ketika penulis bergegas pulang, Budaya China, barongsai pun ditampilkan. Lengkap sudah keyakinan bahwa makanan Indonesia selain tarian adalah representasi terbaik Indonesia ke mancanegara sebagai menjadi pelengkap kekayaan Indonesia. Barongsai dan Tarian betawi, dua dari ratusan tari yang dapat ditemukan disama bagi penulis hampir sama analoginya dengan penganan 80 jenis yang datang menghampiri masyarakat. Mereka itu sebenarnya hanya sedikit dari ribuan jenis makanan lagi yang dapat kita lestarikan terus sebagai persembahan bagi anak cucu kita.

Dan saya berandai-andai , Anthonny Bourdain jika berkesempatan untuk mampir ke acara ini, niscaya mungkin akhirnya akan semakin menguatkan keinginannya untuk mengakhiri perjalanan kuliner keliling dunianya itu, dan akan berakhir di sini atau paling tidak dia sudah tahu bahwa ” food paradise” tidak jauh-jauh letaknya, dia ada di sini,

absolutely, i would really like to end my travels there and stay there until the end.

a friend told me that if you can get past the humidity, everything else is perfect!

Yes , you’re right sir persis sekali…kalau kita bisa memahami panasnya cuaca Jakarta, ! semuanya akan beres…..

Anda juga pasti setuju dengan ungkapannya !

Image Hosted by ImageShack.us

 

 

Di pagi yang cerah di penghujung tahun 2006, kami kedatangan seorang tamu spesial , pemenang Nobel ekonomi 2005, Robert J. Aumann yang berkesempatan memberikan stadium generale di depan komunitas akademis dari berbagai disiplin ilmu seperti ekonomi, keuangan, fisika, teknik, sosial politik, bertempat di Universitas Lausanne, Swiss. Bahkan diluar komunitas kampus, di deretan depan, duduk beberapa pemuka agama, rabbi, pendeta dan ulama lokal yang kemudian tampak menyimak isi ceramahnya dengan serius.

Orang boleh mengenalnya dengan raihan Nobel Ekonomi melalui perluasan ”Game theory (GT)”, tetapi dengan mengembangkannya ke berbagai bidang seperti korporasi, keuangan, gender bahkan konflik antar negara yang berpretensi agama, membuatnya disimak oleh kalangan yang luas. Ditambah dengan penyajian yang segar, jauh dari sekedar pemaparan formula matematika sehingga seketika menghilangkan semua kesan serius, datar dan kering seorang ilmuwan. Aumann yang sepintas lebih mirip tokoh agama, hari itu benar-benar menjadi bintang panggung.

Presentasi pertama yang dilakukannya adalah bagaimana membuat ruang kelas berfikir bagaimana memaksimumkan kemungkinan matchmaking diantara wanita-pria yang meminimumkan potensi tingkat perceraian karena dengan mempelajari ekspektasi dan keputusan antar gender yang menjadi kajian dasar GT akan mengurangi resiko ”salah jodoh”, karena ekpektasi seorang laki-laki terhadap perempuan idamannya-melalui serangkaian strategi persaingan dan perkongsian-telah didekati sampai ke tingkat yang optimum begitu juga sebaliknya antara wanita kepada pria.

Rekan satu program yang berasal dari Lebanon, mengacungkan tangan menanyakan kembali kemungkinan teorinya tersebut dapat membantu menyelesaikan konflik Israel-palestina. Pertentangan abadi yang menyebabkannya harus ”mengungsi” sesaat, melanjutkan studi demi menghindari imbas konflik tersebut kepadanya negaranya yang merupakan basis musuh Israel, Hisbullah. Sekali lagi, Aumann masih mengiyakan kalau suatu ketika nanti akan terdapat optimalisasi aliansi antar negara yang berujung perdamaian.

Pertanyaan silih berganti dialamatkan kepadanya, yang menarik lebih dari separuhnya mencoba menggali bagaimana implikasi GT dalam dunia keuangan entah itu strategi korporasi, merger dan akusisi bahkan konsolidasi bursa efek global . Game Theory memang semakin luas aplikasinya di dunia keuangan, Bahkan perintis GT, John Von Neumann dan Oscar Morgensten telah terkenal luas dengan VNM (Van Newmann Morgenstein) Utility Function di dalam literatur buku teks keuangan modern terutama dalam menggambarkan teori dan analisa pilihan-pilihan investor dalam kondisi ketidakpastian.

***

Peristiwa di atas berkaitan dengan buku ”Esai-esai Nobel Ekonomi” terutama dari segi pemikiran ekonomi yang ternyata semakin lama semakin banyak berseliweran di dunia keuangan, kira-kira itulah yang menjadi salah satu tema sentral buku terbitan penerbit Kompas ini bagi penulis yang berlatar belakang dan bergelut banyak di dunia keuangan. Pas sekali dengan preposisi yang disampaikan melalui iklan penerbitannya di salah satu media ibukota, ”Buku ini menyajikan deskripsi tentang pemikiran-pemikiran pemenang Hadiah Nobel bidang Ekonomi di dalam memahami perilaku para investor di pasar uang dan pasar modal”.

Disajikan secara runtun dari pemenang-pemenang awal yang diwakili oleh ekonom-ekonom ortodoks-berdasarkan ungkapan Prof Daoed Jusuf dalam tulisan ”Jari yang Menunjuk Bulan”- yang diwakili oleh Jan Tinderbergen (1969) dan Paul Samuelson (1970) sampai yang ekonom modern pemanang hadiah ini yang terakhir trio Leonid Hurwicz, Eric S. Maskin, Roger B. Myerson (2007). Tampak jelas segregasi evolusi kajian keuangan yang terlihat semakin meluas dari waktu ke waktu masuk dalam wilayah penelitian para nobelis ini.

Meskipun tidak ditulis spesifik dalam buku ini, dalam jejak rekam sejarah kita bisa mencatat dua nobelis ekonomi sekaligus, Kenneth J. Arrow (1972) dan Gerard Debreu (1983) berkolaborasi menjadi pelopor dalam memperkenalkan AD (Arrow-Debrew Securities)-dalam kerangka General Equilibrium Theory- di awal tahun 50-an yang menjadi landasan dan cikal bakal instrumen derivatif, instrumen manajemen resiko yang semakin lama semakin dipakai untuk alat spekulasi saat ini . Hanya saja keduanya buat komite nobel lebih dikenal kontribusinya dalam mengembangkan hal lain, misalnya Arrow dengan ”teori pilihan sosial” (social choice theory) atau dikenal dengan ’Teori kemustahilan Arrow” (Arrow’s impossibility theorem).

Selanjutnya ada catatan menarik bahwa sebelum EMH (Efficient Market Hypotesis) populer melalui Eugene Fama, Friedrich August von Hayek, (1974) telah memiliki catatan panjang ketertarikan soal informasi asimetris yang menjadi salah satu penyebab kegagalan pasar yang menjadi roh dari teori EMH tersebut.

Kemudian muncul James Tobin (1981), pada topik keuangan yang tak kalah hangatnya akhir-akhir ini, hubungan aliran pelarian modal dan fluktuasi mata uang. Ia dengan Tobin Tax-nya menawarkan sebuah solusi perpajakan bagaimana mengurangi spekulasi pada mata uang sehingga dapat menjinakkan aliran modal yang liar dari satu negara ke negara lainnya dengan memberikan pajak sekitar 0.1-0.25% pada setiap transaksi mata uang asing lintas negara yang terjadi. Akan tetapi sekali lagi, bukan itu yang membuatnya meraih Nobel Ekonomi, tetapi lebih pada kontribusinya mengembangkan model ekonometri yang mendukung sosoknya sebagai ekonom Keynesian yang percaya intervensi pemerintah penting dalam menstabilkan perekonomian .

Setelah mereka, barulah dunia keuangan menemukan momentumnya dengan kehadiran Franco Modigliani (1982) yang kita kenal sebagai salah satu suhu Corporate Finance bersama dengan Merton Miller, melalui teori Modigliani-Miller yang coba menunjukkan bahwa nilai perusahaan tidak dipengaruhi baik oleh pendanaan ekuitas meupun melalui hutang. Inilah karya ekonom yang yang diganjar nobel dengan kontribusi utama di bidang keuangan atau dalam hal ini corporate finance.

Setelah itu begitu banyak nobelis ekonomi yang secara langsung maupun tidak langsung memenuhi ruang perjalanan teori keuangan modern. Salah satu yang dibahas di sini adalah Maurice Allais yang narasinya ditulis oleh Pieter P. Gero. Di tulisan ini, Pieter mencoba mengangkat sosoknya sebagai anak penjaga toko yang mungkin melatarbelakangi keperpihakannya terhadap pembangunan berorientasi kepentingan umum. Penulis di sini mencoba menambahkan bagaimana kiprah pentingnya untuk dunia keuangan.

Kalau di Amerika, nama Maurice Allais (1988), mungkin kurang terdengar maka di kelas pengajaran keuangan Eropa, Allais paradox bahkan menjadi pembuka mata kuliah keuangan modern yang mengupas habis teori preferensi investor dalam melakukan investasi yang menjadi pengantar sebelum memasuki konsep rational expectation. Coba simak paradoks berikut ini :

Li (x, y, θ)

L1 (50, 0, 0.1), L2 (100, 0, 0.09)

L3(50, 0, 1), L4 (100, 0, 0.95)

Dimana :

x = hasil investasi yang dapat diperoleh dengan probabilitas (peluang) θ

y = hasil investasi yang dapat diperoleh dengan probabilitas 1- θ

θ = peluang

Bahwa seseorang yang dihadapkan pada pilihan mendapatkan hasil investasi (payoff) 50 dengan kemungkinan memperolehnya 10% dibandingkan dengan payoff 100 dengan kemungkinan 9% ternyata sebagaian besar akan memilih pilihan kedua, paradoksnya adalah jika situasinya seseorang harus memilih mendapatan payoff 50 dengan resiko rugi hampir tidak ada (0) dan payoff 100 dengan resiko rugi hanya 5% saja, mereka akan justru mengarah cenderung memilih pilihan pertama.

Ini semua menggambarkan bahwa seseorang rela untuk mengambil resiko lebih besar ketika peluang untuk mendapatkan payoff yang lebih besar hanya perlu disertai oeh resiko yang sedikit lebih kecil, tetapi ketika peluang untuk rugi tidak ada, mereka akan cenderung untuk berada pada ”status quo”. Analoginya ketika kita dihadapkan dengan pilihan berinvestasi di deposito atau obligasi pemerintah misalnya dibandingkan dengan berinvestasi di saham pada saat krisis ekonomi tahun 1997 lalu. Anda tahu keputusan apa yang akan diambil.

Kemudian yang perlu kita catat selanjutnya adalah ekonom yang menjadi legenda dunia keuangan, Harry M. Markowitz (1990) dengan teori portofolio modern (Modern Portfolio Theory)- nya. Rasanya sudah cukup banyak cerita tentang tokoh ini di berbagai buku teks, sehingga kita bisa berpindah ke tokoh yang lain. Robert E. Lucas Jr. (1995) yang punya konsepsi ekonomi keuangan yang menarik.

Inilah ekonom yang mendapatkan 3 ulasan sekaligus, masing-masing dari Prof Dr Wan Usman, Anton Sanjoyo dan Ekonom par excellence yang penulis sangat hormati, Almarhum Dr Sritua Arief. Kalau Sritua Arif lebih banyak mengulas sisi teori rational expectation-nya maka Prof Wan Usman menambahkannya dengan kontribusi Lucas dalam pengembangan teori pasar keuangan yang efisien .

Yang bisa dicatat juga di sini terkait dengan paparan Prof Wan Usman adalah Lucas merupakan ekonom pertama yang mengembangkan CCAPM (Consumption Capital Asset Pricing Model) dengan teorema Lucas Fruit Tree-nya yang telah berhasil mempertajam teori CAPM lama – yang memiliki banyak keterbatasan dan hanya terbatas pada analisa satu periode tertentu saja – dengan pendekatan yang lebih stochastic, memperlihatkan keterkaitan secara dinamis antara tingkat konsumsi dan saving dari masyarakat dengan pilihan-pilihan instrumen investasinya di masa depan apakah obligasi, saham atau derivatif.

Melanjutkan kajian Arrow-Debrew tentang derivatif, Robert C. Merton, Myron S. Scholes (1997) kemudian memperkuatnya melalui Black Scholes option pricing model yang telah dikenal luas saat ini, melengkapi pembicaraan soal derivatif di panggung keuangan modern

Di tahun 2000an, Nobel ekonomi-keuangan diwarnai dengan aroma baru, intrusi disiplin ilmu psikologi. Penulis masih ingat ketika Prof. Peter Bossaerts (Caltech) menyajikan kuliah tamu soal psikologi investor melalui peragaan simulasi prospect theory yang berakar dari pemikir Daniel Kahneman (Nobel ekonomi 2002) dan diikuti sekitar 50 orang mahasiswa.

Hasilnya, terrnyata memang investor juga manusia biasa yang sangat dipengaruhi oleh ruang bawah sadarnya. Tidak heran dalam praktek, profesional keuangan kadang lupa sesaat aspek-aspek fundamental dalam menilai harga aset yang sebenarmya dikarenakan riuh psikologi pasar yang hingar bingar dan perlu gerak cepat yang sayangnya sering dicerna tanpa rasionalitas. Teorinya mendapatkan sambutan yang luas dari profesional keuangan, memunculkan banyak buku yang membahas teorinya dengan pendekatan keuangan, salah satunya adalah Investment Madness: How Psychology affecting investment and what to do about it (Nofsinger,2003)

Di ruang financial econometrics, Prof Yohannes Surya, sang pengusung ekonofisika sangat pantas disimak pemikirannya karena tidak sedikit yang kurang nyaman dengan keyakinannya bahwa Fisika telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Ekonomi. Bahkan kalau perlu, beliau perlu juga bisa menambahkannya menjadi financeconophysic karena ulasannya tentang ekonom Robert F. Engle III dan Clive W. J. Granger (2003) juga mengingatkan penulis atas jasa mereka dalam mengajak praktisi keuangan untuk memahami dan mengambil kesimpulan dari pola pergerakan data time series harga saham atau option di emerging market dengan menggunakan perangkat statistik yang lebih dari sekedar mean, median dan standar deviasi sehingga presisinya lebih terjaga, seperti heteroscedacity (ARCH = autoregressive conditional Heteroscedastic) dan ARMA (auto regressive moving average).

Dua selebritis Nobel berikut juga pantas disimak. Dibalik pemikiran Joseph E. Stiglitz (2001) yang kontroversial dan konfrontatif, terkuak pula minatnya terhadap dunia keuangan yang cukup besar, salah satu yang cukup dikenal adalah bukti empiris yang dikemukakannya seputar issue corporate finance, bahwa pendanaan melalui privatisasi entah IPO atau strategic sale relatif kecil dari pendanaan perusahaan secara kesuluruhan (lihat Greenwald, Stiglitz, 1993)

Kita tidak tahu secara jelas apakah Amartya Sen (1998) punya minat yang sama dengan para nobelis-nobelis lainnya di atas, tetapi penulis mmemperkirakan hal-hal seputar microfinance dan integrasi keuangan dengan pembangunan ekonomi bisa jadi menjadi salah satu perhatian Sen yang suatu ketika akan muncul ke publik dalam bentuk kajian.

***

Buku kumpulan esai nobel ekonomi ini begitu menarik bagi penulis, mungkin perlu tambahan berpuluh-puluh lembar halaman ulasan lagi untuk menuntaskannya. Buku ini benar-benar menggambarkan secara persis apa yang telah terjadi dalam dunia ekonomi selama dua dekade terakhir. Dekade dimana Nobel Ekonomi bisa sampai hampir separuh penerimanya didominasi oleh pemikiran ekonomi yang secara langsung maupun tidak langsung bersinggungan dengan dunia keuangan. Di beberapa kasus bahkan telah terjadi dialektika di dalamnya. Benar sekali tinjauan Prof Dr Dorodjatun kuntjorojakti yang menggunakan perangkat dialektika Hegellian untuk memulai pengantarnya terhadap buku tersebut

Contohnya dilalektika yang terjadi mulai Ketika Maurice Allais mengemukan bagaimana pasar modal adalah medan random walk bagi investor yang sedikit demi sedikit dapat dipatahkan dengan teori Merton-Scholes, bahwa sebenarnya pergerakan di pasar saham itu tidak benar-benar random kalau kita memecah-mecah waktu dalam spektrum yang sekecil mungkin , bagaimana mengikuti pergerakan saham setiap detiknya. Sehingga sebenarnya pasar saham lebih tepat dikatakan medan yang unrandomly dynamic bukan sama sekali random. Terjadi proses these-antithese-sinthese di sana..

Mungkin di kemudian hari perlu dihadirkan Nobel untuk dunia keuangan karena akan semakin deras pengaruh pemikiran ekonom bagi dunia keuangan. Misalnya setelah behavoural finance Kahneman berhasil mencuri perhatian dunia, bisa jadi pendalamannya sekarang yang dikenal dengan Neuro finance –sebuah disiplin yang digeluti dengan menggabungkan ekonomi, keuangan dengan dunia kedokteran- akan menjadi calon penerima nobel berikutnya. Atau Ito dengan Ito’s lemma-nya dan Tanaka, kedua nama fisikawan Jepang bisa masuk dalam posisi kandidat karena berjasa mempertajam pendalaman teori derivatif yang sudah dirintis para pendahululunya dengan pengembangannya dari teori presisi roket.

Bukan salah ilmu ekonomi yang sering dijuluki ilmu yang murung itu kalau para pemikirnya terbetot perhatiannya pada dunia keuangan modern. Atau dalam praktek misalnya semakin banyak ekonom yang bergabung dengan industri keuangan. Ini semata karena daya tarik, kompleksitas dan dinamisme dunia keuangan sendiri yang mengundang tidak hanya bagi ekonom klasik tetapi juga para matematikawan, fisikawan, pakar komputer, psikolog bahkan dokter.

Dan bagi ilmu keuangan sendiri, sumbangan para ekonom terdahulu terbukti sangat besar untuk menciptakan dan menjelaskan berbagai fenomena ekonomi-keuangan saat ini dan di masa mendatang. Perkembangan pasar modal yang semakin deras pertumbuhannya, bahu membahu bersama sistem perbankan dalam menyediakan kebutuhan pendanaan dan simpanan bagi masyarakat, telah mendukung kerangka berfikir Hernando de Soto dalam Mystery of Capital bahwa ”dead asset” harus bisa dijadikan modal , karena ”dead asset” inilah yangmembuat negara berkembang tetap miskin, dan pasar modal memberikan ruang untuk itu.

Juga menjelaskan evolusi kondisi mengapa terjadi Instabilitas dan meningkatnya resiko sektor keuangan saat ini, yang terbukti menjadi pemicu krisis ekonomi secara keseluruhan di berbagai negara. Juga buku ini mendokumentasikan sekaligus menyisir asal muasal munculnya instrumen derivatif dengan Hedge Fund sebagai panglimanya. Itu semua adalah hal-hal yang sudah masuk dalam ruang akademis puluhan tahun lalu yang efek praktisnya baru kita rasakan belakangan.

 

 

Catatan dari Gala Premiere, Jiffest 2007


Image Hosted by ImageShack.us

 

 

Sosoknya sebenarnya dapat dikatakan mungil. Jika seandainya tidak diberikan panggung yang sedikit lebih luas dan tinggi di center stage Balairung UI, niscaya tubuh kecilnya itu akan ditelan gemuruh paduan suara tenor, bariton, sopran dan bass ribuan mahasiswa baru yang saat itu dengan gegap gempita menyanyikan lagu ”Pahlawan Muda”. Sementara di sketsa yang lain, kita akan dibuat berdiri bulu romanya dengan riqueme tanpa henti puluhan ribu pendukung ”Singo Edan” Arek-arek Malang (Arema), menjelang pertandingan mereka dengan ”Bonek” Persebaya dan tanpa harus menunggu terlalu lama, penonton akan dibuai oleh repertoar Twilite Orchestra yang mendayu.

3 mosaik yang silih berganti mendatangi para penonton, yang malam itu juga sepertinya sepintas dapat dibagi menjadi 3 unsur utama, jurnalis film baik asing maupun lokal, para supporter sepakbola dan sekedar penikmat film.

Memang ada 3 episode yang membagi figur 3 trisula konduktor yang menjadi aktor utama film ini. Mas Dibyo (Paduan Suara Maba UI) , Yuli Soemphil’ Sugianto (Arema) dan Addie MS (Twilite Orchestra), yang menggambarkan sketsa kontradiktif di tengah masyarakat kita bahwa kepemimpinan harus diwakili entah oleh sosok gagah besar macam Maximus Decimus Meridius, kalau tidak ya.. berotak Habibie atau paling tidak mereka yang mendapatkan berkah titisan kekayaan ataupun darah biru dari keturunan di atasnya sehingga memungkinkannya mampu untuk ”membeli’ kekuasaan.

Semua persepsi tersebut telah dilanggar oleh Mas Dibyo yang mungil, Addie MS yang memutuskan cukup menjadi lulusan SMA, mengaku telah mengejutkan orang tuanya karena keputusannya itu, dan Yuli ”Soemphil’, seorang lulusan Aliyah yang sehari-harinya hanya bekerja sebagai penjual air mineral galonan. Tetapi lihatlah bagaimana jiwa kepemimpinan yang dibawa ketiganya diapresiasi ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu ”massa” yang berada di bawah komando arahan musikal mereka. Dan hasilnya jauh dari mengecewakan. Sebuah senandung. komposisi maupun histeria yang terkemas dalam balutan harmoni. Bagi Paulo Coelho “The Alchemist”, ini adalah antitesis dari apa yang menjadi bagian dari dialognya dengan Antonio dalam ”pilgrimage” bahwa supporter yang kehilangan kepercayaan akan membuat sebuah tim kalah dalam sebuah pertandingan yang telah mereka menangkan (Fans who lack the faith can make a team lose a game it is already winning).

The Conductors” memaksa kita memikirkan ulang proses pencarian sosok kepemimpinan sejati. Addie MS menekankan faktor talenta dan skill sebagai sumbu utamanya, karena di dalam teori semua orang bisa menjadi konduktor , hanya mereka yang bertalenta dan ketrampilan baik lah yang mampu menghasilkan harmoni karena memahami fungsi subtil dari unsur-unsur pendukungnya termasuk secara tegas dapat memberikan direksinya. Bahkan skill yang sangat istimewa akan menghasilkan masterpiece yang dapat mengangkat harkat derajat bangsa. Mas Dibyo menekankan soal kepercayaan dan kehormatan, karena dengan itulah dia bisa terus dipercaya memimpin paduan suara massal unik ini selama belasan tahun. Dan untuk Yuli, sederhana saja bahwa akseptansinya sebagai pemimpin didasarkan atas dedikasi yang berasal dari hati, jauh dari iming-iming materi apalagi semangat menguasai.

Itulah yang membuat ketiganya gampang saja mengarahkan “massa”nya, Yuli untuk ketulusannya itu telah membuat ketua PSSI, Agum Gumelar jatuh hati dan sengaja mengundangnya sebagai bagian dari komponen suporter di tengah acara yang diperuntukkan para pengurus ”yang terhormat” untuk menjadi contoh bagaimana seharusnya cara insan sepakbola mencintai klub dan tim nasionalnya . Dan anda tahu siapa itu Addie MS, tidak ada yang tidak tahu, prestasinya membawa pusaka musik simfoni ke ruang-ruang pop culture, ABRI mempercayakannya untuk membuat Mars mereka, betapa publik internasional bertepuk bagi pesona orkestranya, belum lagi berbagai pentas internasional yang telah menyematkan penghargaan di dadanya, bahkan nominasi grammy pun sempat dinikmatinya. Rektor UI boleh berganti, tetapi Mas Dibyo tetap ada di sana, mengeluarkan suara menggelegar, sebuah perpaduan maxi-mini bersinergi.Ketiganya jelas bukan Titus Flavius, konduktor otoriter yang harus mati sebelum permainan usai.

***

Film yang baik adalah yang mampu memberikan tidak sekedar intrepretasi tunggal terhadap pesan yang igin disampaikannya. Ini yang ditunjukkan oleh The Conductors. Jadi sungguh film ini bagi penulis bukan sekedar sebuah fim bertema ”sosiologi sepakbola’ ataupun film ’nasionalisme musikal’ yang mungkin menjadi interprestasi final bagi sebagian jurnalis film atau supporter Singo Edan, Arema atau The Jak yang hadir dalam premiere tersebut tetapi sebuah wacana dialektis yang memungkinkan setiap orang untuk mendefinisikan dan mencari pilihan-pilihan sosok kepemimpinan yang cocok untuk komunitasnya

Sebuah diskursus yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat kita saat ini yang sungguh haus mencari sosok pemimpin sejati, tidak saja untuk negaranya tetapi masyarakat kebanyakan. Bukti telah terhampar di depan mata bahwa Sepakbola kita beberapa tahun ini telah porak poranda tanpa konduktor yang punya hati dan kehormatan. The conductors menawarkan perpaduan alternatif kepemimpinan antara mereka yang punya talent (bakat dan keahlian), honor (kehormatan) dan passion (hasrat dari hati). Tiga unsur kepemimpinan yang tidak sulit membawa massanya untuk menempatkan nasionalisme sebagai titik zenith pencapaian. Sehingga sungguh sangat pas ketika akhirnya episode 3 tokoh ini berakhir dalam satu klimaks yang mengharukan ketika ”Indonesia Raya” dikumandangkan berpadupadan bersama-sama dalam ruang konser Twilite Orchestra, balairung UI dan Stadion Gelora Bung karno.

***

Film Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk berpenampilan premiere dalam Jiffest jelas kesempatan yang langka. Kesempatan ini sekaligus membanggakan bagi para personel dibelakang The Conductors, apalagi di tengah hadirnya film-film kaliber internasional seperti Persepolis yang memperoleh penghargaan dari juri pada Festival Cannes 2007 dan film lainnya seperti into the wild, Elcustodio, The US versus John Lennon dan Chants of Lotus, film-film ”seksi” dengan topik seputar permasalahan sosial, pencarian makna fidup, sikap politik dan kesetaraan gender.

Meski tidak tanpa cela tentunya, tata suara yang sampai di telinga pendengar harusnya bisa digarap lebih baik lagi apalagi Jiffest sendiri telah menggolongkan film ini bukan tentang sepakbola tetapi film musikal. Juga beberapa kesalahan penerjemahan dalam subtittle yang sesekali membuat para jurnalis asing menggaruk-garukkan kepala.

Lepas dari semua itu, film ini kaya dengan gagasan, soal kepemimpinan, etika berkehidupan termasuk di dalam sepakbola, yuli suatu kali mengatakan, supporter harus sadar bahwa klub dibiayai 80% dari pemasukan tiket, jadi haruslah malu kalau masuk stadion tanpa tiket, kalimat yang sungguh ibaat oase, keluar dari seorang yang hanya berpenghasilan 25,000 seharinya. Atau, bagaimana demokratisnya dia menentukan lagu atau yel-yel yang harus dinyanyikan, semuanya dikembalikan kepada para fans yang moodnya bisa berubah-ubah setiap waktu. Wong cilik yang lebih paham makna demokrasi dan hati nurani masyarakat ketimbang para pemimpin formalnya.

Bagi Andi Bachtiar ”Ucup” Yusuf . Film keempat menyusul trilogi sebelumnya, Jakarta is mine, Hardline dan The Jak, telah menunjukkan bahwa sosoknya sebagai sineas muda pengusung film dokumenter dengan tema-tema sepakbola-sebagai episentrum eksplorasi kreativitas-semakin menunjukkan kematangannya dalam berkreasi. Berbagai Film Festival berkaliber internasional telah menunggunya untuk berkiprah.

Dan… oh ya, bagi para mahasiswa atau mantan mahasiswa, selamat juga menikmati romantika masa-masa awal perkuliahan yang manis yang tidak secara sengaja akan anda temukan di film ini yang kembali akan diputar untuk umum pada weekend tanggal 16 desember nanti, atau kalau anda belum sempat mampir ke JIFFEST, film ini dapat disaksikan di bioskop, di awal Januari 2008 yang sudah dekat ini. Don’t miss it.

Sebagai teaser, cuplikan The Conductors bisa dilihat di Youtube :


Casino Royale

Image Hosted by ImageShack.us

 

 

Do you believe in God Mr Le Chiffre ?
No, I believe in a reasonable rate of return

 

Sudahkah anda menyaksikan film 007 yang terakhir, Casino Royale? Film ini menurut kritikus film adalah yang terbaik dari seri Bond yang ada selama ini setelah Goldfinger (1964). Berbeda dengan film-film sebelumnya, film James Bond kali ini punya nuansa yang lain bagi penulis. Bukan soal aktor utama, Daniel Craig yang pada awalnya banyak mengundang kontroversi karena dianggap kurang cocok untuk menampilkan sosok 007, atau kisah spionasenya yang menaikkan adrenalin begitu pula perangkat pendukung kegiatan Bond yang super canggih atau kiprah para gadis Bond yang “mengundang”, tetapi kali ini justru dengan saratnya unsur trik-trik keuangan dan pasar modal yang telah menghidupkan skenario film betotan sutradara Martin Campbell ini, dari cerita tentang berseliwerannya uang “panas” hasil korupsi dan pencucian uang, lika liku kehidupan Private Banker yang memfokuskan diri di pengumpulan dana terorisme, mekanisme short selling saham, fungsi kustodian bank dan investasi pada instrumen yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan belakangan ini, option.

Singkat kata, diceritakan bahwa tokoh Mr Le Chiffre (Mr angka dalam bahasa Perancis yang diperankan dengan sangat apik oleh aktor Mads Mikkelsen) adalah seorang private banker kelas kakap yang pada suatu saat mengelola dana panas dari nasabah di Mbale Uganda, yang juga seorang pembuat bom. Mr LeChiffre menempatkan dana yang dititipkan nasabah sebesar 100 juta dollar untuk diinvestasikan dengan melakukan shortselling saham perusahaan penerbangan, skyfleet dan pada saat yang sama membeli kontrak put option (hak untuk menjual instrumen keuangan tertentu pada harga tertentu-pada strike price- dan waktu tertentu di masa depan) dengan underlying saham penerbangan skyfleet tersebut. Dalam hal ini jenis instrumen yang dipilih adalah put option yang berjenis European option karena excersise dilakukan pada saat jatuh tempo.

Kemudian demi menangguk keuntungan luar bisa, dia mencoba merekayasanya dengan percobaan penggagalan peluncuran prototype pesawat dengan harapan harga saham perusahaan akan jatuh sehingga dia menangguk untung. Apa yang terjadi kemudian? Percobaan tersebut digagalkan Bond, alih-alih meraup capital gain dari short sell dan keuntungan dari kontrak option- sebesar K(Strike price) minus ST(harga saham pada saat kontrak expire) dikalikan dengan jumlah kontrak option yang dibeli-yang maksimum, Mr le Chiffre justru rugi ratusan juta dollar karena saham perusahaan terus naik seperti yang diperkirakan banyak analis.

Di tengah kepanikannya jika sewaktu-sewaktu si pemilik memerlukan uang itu kembali, Le Ciffres mempertaruhkan dananya di meja poker, di Casino Royale, Montenegro , dengan harapan dapat digunakannya untuk menutupi kerugian dari investasinya di pasar modal itu. Sekali lagi, harapan keuntungan ratusan juta dollar yang sudah ada di depan mata kembali digagalkan Bond, Le Chiffres harus menelan pil pahit, taruhannya bertambah besar dengan nyawa yang melayang bahkan sebelum film itu selesai .

Moral dari cerita di atas adalah memang benar adanya, sinyalemen bahwa begitu banyaknya uang panas beredar di dunia private bank, entah dari hasil korupsi, bisnis militer dan senjata, perampokan bank atau terorisme Kemudian dalam pengelolaan keuangan, pemilihan produk-produk investasi yang sesuai dengan karakter investor seharusnya menjadi tujuan pengelolaan kekayaan utama. Short selling diperlukan untuk menyemarakkan perdagangan saham, tetapi jika sudah tidak terkontrol yang ada adalah pasar modal sekedar menjadi ruang poker besar bagi para spekulator.

Selanjutnya intrumen Option yang sejatinya adalah instrumen nilai lindung yang menjaga posisi investasi nasabah pada satu instrumen investasi tertentu dan bukanlah ajang spekulasi. Mereka yang membeli option dengan underlying saham bisanya adalah mereka yang juga membeli saham tersebut bukan justru mereka yang mengambil posisi short atau mereka yang membeli foreign exchange adalah mereka yang memang memiliki exposure yang besar di mata uang asing, sehingga jika terjadi sesuatu dengan saham tersebut atau fluktuasi mata uang asing, kerugiannya sebagian dapat ditutupi dengan pembelian option tersebut

Masyarakat Indonesia yang senang bertransaksi saham dengan fasilitas margin trading atau mereka yang mulai menyenangi option jangan sampai memasuki episode Casino Royale ini. Setelah reksa dana dan saham sudah semakin familiar di telinga publik, kali ini giliran option yang mulai menarik perhatian dan unjuk gigi tetapi berhati-hatilah. Sekali lagi tidak ada yang salah dengan instrumen tersebut, karena toh instrumen ini sangat berbeda dengan investasi bodong semacam Qisar atau Dollar Fund-nya Dressel yang menguak kisruh, tetapi ketika option mulai sekali lagi ditawarkan dengan iming-iming yang setinggi langit tanpa mengingatkan potensi kerugian yang mungkin diperoleh, akan sama kasusnya dengan menggembar-gemborkan “kesaktian” reksadana misalnya yang selalu diperkenalkan sebagai instrumen yang lebih baik dari deposito tanpa memberitahu bahwa resikonya juga relatif lebih tinggi, termasuk informasi reksa dana pendapatan tetap bisa memberikan pendapatan yang sama sekali jauh dari tetap, bahkan minus , Karena tanpa keterbukaan semacam itu, kita mengulangi kesalahan yang sama, terjadi ekspektasi yang timpang antara nasabah dan pemasar, yang pada saat-saat tertentu bisa meledak,

Mudah-mudahan kita belajar dari kasus-kasus yang sudah ada, jangan kita tenggelam dengan option yang salah dimengerti, sebab kalau diurut-urutkan , intrumen ini memiliki fungsi utama dalam hal risk management selanjutnya baru untuk alat investasi dan spkeluasi adalah yang terakhir. Sekarang, masyarakat seolah-olah langsung dibawa ke ajang spekulasi dengan iming-iming setinggi langit Yang perlu diingat ketika tertarik dengan instrumen seperti option atau instrumen derivative lainnya adalah potensi kerugian yang mungkin terjadi (lihat tulisan penulis “risiko derivative”, Kontan 22 Mei 2007) ingat LTCM yang membawa jutaan dollar kerugian bagi investor, kasus Baring yang membawa Nick Lesson ke penjara bahkan dalam kasus Casino Royale, menjempu tokoh Le Chiffres ke gerbang kematian.

Bersikap lebih fair dengan memberikan informasi yang seimbang antara potensi return dan resiko yang dimiliki oleh option adalah kewajiban para pemasar dan hak asasi investor, bagi nasabah selalu senantiasalah bersifat kritis dengan paradigma bahwa tidak ada shortcut untuk mempeoleh keuntungan yang tinggi tanpa ada resiko dibalik supaya kita tidak terus menerus mengulangi kesalahan yang sama. Become very rich overnight? Come on….give me a break. Sudah benar apa yang akan dilakukan oleh Bapepam-LK untuk menertibkan kegiatan shortselling yang terkesan tidak terkontrol, masih ditunggu inisatif untuk soal option.

Dan bagi para penggemar film James Bond, ini film yang penulis sangat rekomendasikan untuk ditonton, hampir tanpa cacat. Memang akan ada sebagian yang kecewa dengan pemilihan aktor atau kehilangan sosok bond girl seperti Ursula andress atau Halle Berry atau kehilangan musik memikat seperti The Living Daylight- nya a-ha atau “A View to a Kill-nya” Duran Duran, tetapi kita sesungguhnya dapat kembali melihat film Bond yang kembali ke “khittah”, lebih fokus pada suspense yang total, intelek dan faktual ketimbang pernak-pernik lainnya.

(Swa Sembada, Oktober, 2007)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.